Sabtu, 24 Maret 2012
Senin, 05 Maret 2012
...........
Senja kali ini begitu manja.
Terlihat seolah sang surya enggan terbenam di ufuk barat.
Ya, Sang surya enggan untuk tenggelam.
Siangpun enggan untuk mempertahankannya.
Dan petangpun sudah menunggu giliran.
Aku tidak paham mengapa sang surya tidak juga memahami posisinya.
Setelah sepersekian detik, aku mulai berfikir..................
Bagaimana kalau sang surya itu aku?
Bagaimana kalau siang itu kamu?
Dan bagaimana kalau petang itu dia, objekmu yang baru.
Mengapa pula tiba-tiba aku teringat kamu?
Ah, Aku benci.
Benci mengangankanmu.
Benci mengharapmu.
Benci mengingatmu.
Tapi aku tidak benci kepadamu.
Nyatanya hatiku selalu berderu seru sekali menyerukan asmamu.
Namun aku tidak sanggup melesankan namamu.
Begitu juga menuliskan asmamu, bikin sakit hati saja.
Akupun tidak yakin akan isyarat ini.
Iyakah ini adalah cinta?
Iyakah kamu mauku?
Iyakah hanya kamu?
Selimut keraguan berlapis kebimbangan terlalu tebal.
Apakah aku harus mempertahankan posisiku
Apakah aku harus memperjuangkanmu
Apakah aku harus melangkah melupakan memori tentangmu
Apakah aku harus menjawab semua ini?
Entahlah.
Aku tidak tau. Dan tidak mau tau.
Yang aku tau aku merindumu saat ini juga.
Dan akankah sang surya harus tenggelam di ufuk barat? Iya.
Bukankah itu semua suratan takdir?
Terlihat seolah sang surya enggan terbenam di ufuk barat.
Ya, Sang surya enggan untuk tenggelam.
Siangpun enggan untuk mempertahankannya.
Dan petangpun sudah menunggu giliran.
Aku tidak paham mengapa sang surya tidak juga memahami posisinya.
Setelah sepersekian detik, aku mulai berfikir..................
Bagaimana kalau sang surya itu aku?
Bagaimana kalau siang itu kamu?
Dan bagaimana kalau petang itu dia, objekmu yang baru.
Mengapa pula tiba-tiba aku teringat kamu?
Ah, Aku benci.
Benci mengangankanmu.
Benci mengharapmu.
Benci mengingatmu.
Tapi aku tidak benci kepadamu.
Nyatanya hatiku selalu berderu seru sekali menyerukan asmamu.
Namun aku tidak sanggup melesankan namamu.
Begitu juga menuliskan asmamu, bikin sakit hati saja.
Akupun tidak yakin akan isyarat ini.
Iyakah ini adalah cinta?
Iyakah kamu mauku?
Iyakah hanya kamu?
Selimut keraguan berlapis kebimbangan terlalu tebal.
Apakah aku harus mempertahankan posisiku
Apakah aku harus memperjuangkanmu
Apakah aku harus melangkah melupakan memori tentangmu
Apakah aku harus menjawab semua ini?
Entahlah.
Aku tidak tau. Dan tidak mau tau.
Yang aku tau aku merindumu saat ini juga.
Dan akankah sang surya harus tenggelam di ufuk barat? Iya.
Bukankah itu semua suratan takdir?
Langganan:
Komentar (Atom)