Kenyataan bahwa era digital saat
ini sangat mengubah pola hidup maupun perilaku masyarakat ke arah yang cenderung
negatif memang tidak dipertanyakan lagi. Tetapi, apakah sisi kemanusiaan dalam diri masyarakat juga ikut berubah?
Sebuah gerakan yang dinamai Sedekah Rombongan menjawabnya dengan pembuktian,
bahwa masih banyak yang peduli pada sesama di era digital ini.
Berawal
dari tulisan dalam sebuah blog
pribadi milik Saptuari Sugiharto, gagasan membentuk suatu gerakan sedekah
jalanan pun muncul. Tulisan dari founder
sedekah jalanan ini membahas mengenai seorang bernama Puteri Herlina, seorang
penyandang difabel yang tidak memiliki tangan sejak lahir dan dirawat oleh
panti asuhan Sayap Ibu di Jogjakarta. Tulisan tersebut mendapat respon luar
biasa dari kawan-kawan blogger, dan
dari sanalah kemudian banyak SMS serta mention
di twitter yang ingin menitipkan sedekah.
Saptuari
mengatakan tanggal sembilan Juni 2011 menjadi momen penting dimana gerakan ini
resmi didirikan dan dinamai Sedekah Rombongan. “Sedekah Rombongan mengambil konsep seperti semut, sendiri dia
lemah, kalau barengan biskuit saja
bisa diangkat,” ujarnya.
Dengan
Visi “Mencari muka di depan Tuhan” dan misi “Menyampaikan titipan langit tanpa
rumit sulit dan berbelit belit,” Sedekah Rombongan menjadi garda terdepan untuk
membantu masyarakat di luar sana yang membutuhkan pertologan jasmani maupun
rohani.
Kekuatan TTW
Seiring
dengan begitu banyaknya kawan dan pengguna twitter yang ingin menitipkan dan
menyampaikan sedekah lewat gerakan ini, Sedekah Rombongan kini telah hadir di sembilan
kota di Indonesia dan telah banyak member
manfaat bagi masyarakat setempat.
Koodinator
wilayah Solo, Lastiko Harimurti mengaku bahwa gerakan Sedekah Rombongan memang
lebih banyak menggunakan media sosial dalam sistem kerjanya. Berawal dari follow akun @SRbergerak pula dia
mengetahui dan memutuskan bergabung dengan Sedekah Rombongan. “Uniknya Sedekah
Rombongan adalah kuatnya Trust, Twitter dan Web (TTW),” ujarnya.
Tidak
hanya lewat twitter dan web, Sedekah Rombongan juga memanfaatkan
dengan baik sosial media lainnya yang dirasa sangat efektif dalam mengabarkan
informasi kepada masyarakat. “Dengan adanya sosmed
orang jadi mudah bersedekah, mereka jadi tahu kemana saja sedekahnya
disampaikan. Terpantau online 24 Jam
melalui twitter, web, facebook dan instagram” jelas Saptuari.
Nantinya,
jumlah semua santunan tersebut akan dilaporkan di web secara transparan. Sedekah rombongan hingga saat ini tercatat sudah
menyampaikan santunan sebesar 21 milyar lebih, dan santunan tersebut disampaikan
untuk bantuan dan operasional.
Selain
menghimpun dana lewat media sosial, gerakan ini juga melakukan publikasi dan
kegiatan nyata seperti seminar dan presentasi. Kegiatan tersebut bertujuan
untuk memberikan berita tentang keluarga kita diluar sana yang saat ini sedang
menjerit lapar, kesakitan dibalik dinding rumah sakit, di dalam rumah berlantai
tanah yang semuanya perlu pertolongan kita sebagai sesama manusia.
Untuk
sasaran penerima santunan sendiri, Sedekah rombongan mengerucutkannya
berdasarkan prioritas. Prioritas tersebut antara lain panti asuhan anak cacat,
panti asuhan bayi terlantar, panti asuhan yatim piatu, janda tua
dhuafa, orang sakit yang tidak mampu, biaya sekolah anak yatim dan dhuafa,
pondok pesantren dan masjid yang sedang dibangun atau kekurangan, serta
kebutuhan alat ibadah.
WorkFlow
Sebagai
sebuah gerakan sedekah jalanan yang tidak memiliki kantor, relawan yang disebut
dengan “kurir” selalu berkoordinasi dan membuat administrasi di dunia maya.
“Biasanya diadakan gathering para
kurir sewilayah, dan se-Indonesia ketika ada rapat, karena hubungan utama lewat
whatsapp soalnya,” tutur Lastiko.
Sedekah
Rombongan mempunyai tiga WorkFlow,
yaitu survey, santuni dan dampingi. Lastiko
menjelaskan bahwa awalnya akan ada informasi yang masuk mengenai pasien dari web, twitter
atau ditemukan kurir sendiri yang kemudian akan di survey oleh kurir, dan selanjutnya akan dibahas di dalam grup yang
nantinya diputuskan untuk diberikan santunan lepas atau dampingan. “Santunan
lepas ialah memberi sekali dengan sejumlah banyak uang dan dampingan ialah
mendampingi pasien dari awal berobat sampai selesai pengobatan,” terang
Lastiko.
Tidak
jarang, pasien yang dibantu Sedekah Rombongan adalah mereka yang terkena
penyakit ganas seperti kanker dan tumor, yang tentu dalam pengobatannya
membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Untuk
memudahkan pengobatan dan pendampingan pasien, saat ini Sedekah Rombongan telah
memiliki Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) di beberapa kota sebagai tempat
transit pasien yang berobat jalan rujukan dari RSUD luar kota. Dan juga sudah
memiliki 18 MTSR atau mobil Tanggap Sedekah Rombongan yang berfungsi sebagai ambulance untuk memudahkan pergerakan
antar jemput pasien.
Ladang Ibadah
Gencarnya
publikasi dan sosialisasi melalui media sosial, membuat gerakan sedekah
rombongan tidak hanya semakin dikenal oleh masyarakat, tetapi juga membuat
banyak dari mereka ingin terlibat dalam gerakan ini.
Salah
seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Khori Nur Laila,
mengaku senang bergabung dengan Sedekah Rombongan wilayah Solo. Menurutnya,
sedekah tidak melulu sebatas sejumlah
uang yang diberikan, tetapi juga tenaga, pikiran dan waktu yang diberikan
kepada sesama yang membutuhkan.
“Selagi
diberi sehat maka saya harus merawat orang sakit, menjadi kurir adalah
panggilan hati, bagi saya Sedekah Rombongan sendiri adalah wadah tanpa mengenal
usia dan ladang ibadah,” tuturnya.
Senada
dengan pendapat Khori, Lastiko lantas menceritakan bahwa banyak kurir yang
berasal dari beragam latar belakang sosial, bergabung dengan Sedekah Rombongan
sebagai wujud syukur dan cari muka di depan Tuhan.
“Bahagia,”
pungkas Lastiko saat ditanya dampak yang dirasakannya selama bergabung dengan
Sedekah Rombongan.
Sedekah
Rombongan adalah salah satu contoh gerakan yang menggunakan dengan baik media sosial
yang ada. Menumbuhkan empati dan kemudian menyatukan tiap individu baik dengan
media sosial sebagai penyalur niat baik mereka, begitulah kiranya yang terlihat
dari gerakan ini.
.
Sedekah Rombongan menjadi bukti nyata bahwa masih banyak orang baik diluar sana
yang peduli dan mau beraksi. Namun jika hal tersebut belum cukup membuktikan
dan masih ada pertanyaan apakah sisi kemanusiaan saat ini semakin memudar atau
justru mengental, coba tanyakan pada diri masing-masing. Mengutip dari
kata-kata Saptuari “Orang kaya itu merasa cukup hingga mulai memberi. Orang
miskin itu selalu merasa kurang hingga terus meminta. Kamu kaya apa miskin?”.
*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Feature Writing Competition di COMMINFEST 2015 Univ. Atmajaya Jogjakarta.
*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Feature Writing Competition di COMMINFEST 2015 Univ. Atmajaya Jogjakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar