Senin, 04 Mei 2015

Bantu Sesama Sembari Cari Muka Depan Tuhan


Kenyataan bahwa era digital saat ini sangat mengubah pola hidup maupun perilaku masyarakat ke arah yang cenderung negatif memang tidak dipertanyakan lagi. Tetapi, apakah sisi kemanusiaan  dalam diri masyarakat juga ikut berubah? Sebuah gerakan yang dinamai Sedekah Rombongan menjawabnya dengan pembuktian, bahwa masih banyak yang peduli pada sesama  di era digital ini. 
 
Berawal dari tulisan dalam sebuah blog pribadi milik Saptuari Sugiharto, gagasan membentuk suatu gerakan sedekah jalanan pun muncul. Tulisan dari founder sedekah jalanan ini membahas mengenai seorang bernama Puteri Herlina, seorang penyandang difabel yang tidak memiliki tangan sejak lahir dan dirawat oleh panti asuhan Sayap Ibu di Jogjakarta. Tulisan tersebut mendapat respon luar biasa dari kawan-kawan blogger, dan dari sanalah kemudian banyak SMS serta mention di twitter yang ingin menitipkan sedekah.
Saptuari mengatakan tanggal sembilan Juni 2011 menjadi momen penting dimana gerakan ini resmi didirikan dan dinamai Sedekah Rombongan. “Sedekah Rombongan  mengambil konsep seperti semut, sendiri dia lemah, kalau barengan biskuit saja bisa diangkat,” ujarnya.
Dengan Visi “Mencari muka di depan Tuhan” dan misi “Menyampaikan titipan langit tanpa rumit sulit dan berbelit belit,” Sedekah Rombongan menjadi garda terdepan untuk membantu masyarakat di luar sana yang membutuhkan pertologan jasmani maupun rohani. 

Kekuatan TTW
Seiring dengan begitu banyaknya kawan dan pengguna twitter yang ingin menitipkan dan menyampaikan sedekah lewat gerakan ini, Sedekah Rombongan kini telah hadir di sembilan kota di Indonesia  dan telah banyak member manfaat bagi masyarakat setempat.
Koodinator wilayah Solo, Lastiko Harimurti mengaku bahwa gerakan Sedekah Rombongan memang lebih banyak menggunakan media sosial dalam sistem kerjanya. Berawal dari follow akun @SRbergerak pula dia mengetahui dan memutuskan bergabung dengan Sedekah Rombongan. “Uniknya Sedekah Rombongan adalah kuatnya Trust, Twitter dan Web (TTW),” ujarnya.
Tidak hanya lewat twitter dan web, Sedekah Rombongan juga memanfaatkan dengan baik sosial media lainnya yang dirasa sangat efektif dalam mengabarkan informasi kepada masyarakat. “Dengan adanya sosmed orang jadi mudah bersedekah, mereka jadi tahu kemana saja sedekahnya disampaikan. Terpantau online 24 Jam melalui twitter, web, facebook dan instagram” jelas Saptuari.
Nantinya, jumlah semua santunan tersebut akan dilaporkan di web secara transparan. Sedekah rombongan hingga saat ini tercatat sudah menyampaikan santunan sebesar 21 milyar lebih, dan santunan tersebut disampaikan untuk bantuan dan operasional.
Selain menghimpun dana lewat media sosial, gerakan ini juga melakukan publikasi dan kegiatan nyata seperti seminar dan presentasi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan berita tentang keluarga kita diluar sana yang saat ini sedang menjerit lapar, kesakitan dibalik dinding rumah sakit, di dalam rumah berlantai tanah yang semuanya perlu pertolongan kita sebagai sesama manusia.
Untuk sasaran penerima santunan sendiri, Sedekah rombongan mengerucutkannya berdasarkan prioritas. Prioritas tersebut antara lain panti asuhan anak cacat, panti asuhan bayi terlantar, panti asuhan yatim piatu, janda tua dhuafa, orang sakit yang tidak mampu, biaya sekolah anak yatim dan dhuafa, pondok pesantren dan masjid yang sedang dibangun atau kekurangan, serta kebutuhan alat ibadah.

WorkFlow
Sebagai sebuah gerakan sedekah jalanan yang tidak memiliki kantor, relawan yang disebut dengan “kurir” selalu berkoordinasi dan membuat administrasi di dunia maya. “Biasanya diadakan gathering para kurir sewilayah, dan se-Indonesia ketika ada rapat, karena hubungan utama lewat whatsapp soalnya,” tutur Lastiko.
Sedekah Rombongan mempunyai tiga WorkFlow, yaitu survey, santuni dan dampingi. Lastiko menjelaskan bahwa awalnya akan ada informasi yang masuk mengenai pasien dari web, twitter atau ditemukan kurir sendiri yang kemudian akan di survey oleh kurir, dan selanjutnya akan dibahas di dalam grup yang nantinya diputuskan untuk diberikan santunan lepas atau dampingan. “Santunan lepas ialah memberi sekali dengan sejumlah banyak uang dan dampingan ialah mendampingi pasien dari awal berobat sampai selesai pengobatan,” terang Lastiko.
Tidak jarang, pasien yang dibantu Sedekah Rombongan adalah mereka yang terkena penyakit ganas seperti kanker dan tumor, yang tentu dalam pengobatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Untuk memudahkan pengobatan dan pendampingan pasien, saat ini Sedekah Rombongan telah memiliki Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) di beberapa kota sebagai tempat transit pasien yang berobat jalan rujukan dari RSUD luar kota. Dan juga sudah memiliki 18 MTSR atau mobil Tanggap Sedekah Rombongan yang berfungsi sebagai ambulance untuk memudahkan pergerakan antar jemput pasien. 

Ladang Ibadah
Gencarnya publikasi dan sosialisasi melalui media sosial, membuat gerakan sedekah rombongan tidak hanya semakin dikenal oleh masyarakat, tetapi juga membuat banyak dari mereka ingin terlibat dalam gerakan ini.
Salah seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Khori Nur Laila, mengaku senang bergabung dengan Sedekah Rombongan wilayah Solo. Menurutnya, sedekah tidak melulu sebatas sejumlah uang yang diberikan, tetapi juga tenaga, pikiran dan waktu yang diberikan kepada sesama yang membutuhkan.
“Selagi diberi sehat maka saya harus merawat orang sakit, menjadi kurir adalah panggilan hati, bagi saya Sedekah Rombongan sendiri adalah wadah tanpa mengenal usia dan ladang ibadah,” tuturnya.
Senada dengan pendapat Khori, Lastiko lantas menceritakan bahwa banyak kurir yang berasal dari beragam latar belakang sosial, bergabung dengan Sedekah Rombongan sebagai wujud syukur dan cari muka di depan Tuhan.
“Bahagia,” pungkas Lastiko saat ditanya dampak yang dirasakannya selama bergabung dengan Sedekah Rombongan.
Sedekah Rombongan adalah salah satu contoh gerakan yang menggunakan dengan baik media sosial yang ada. Menumbuhkan empati dan kemudian menyatukan tiap individu baik dengan media sosial sebagai penyalur niat baik mereka, begitulah kiranya yang terlihat dari gerakan ini.
. Sedekah Rombongan menjadi bukti nyata bahwa masih banyak orang baik diluar sana yang peduli dan mau beraksi. Namun jika hal tersebut belum cukup membuktikan dan masih ada pertanyaan apakah sisi kemanusiaan saat ini semakin memudar atau justru mengental, coba tanyakan pada diri masing-masing. Mengutip dari kata-kata Saptuari “Orang kaya itu merasa cukup hingga mulai memberi. Orang miskin itu selalu merasa kurang hingga terus meminta. Kamu kaya apa miskin?”.

*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Feature Writing Competition di COMMINFEST 2015 Univ. Atmajaya Jogjakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar