Jumat, 05 Februari 2016

Memahami Murakami



“Berulangkali kubaca buku-buku itu, atau adakalanya hanya dengan memejamkan mata, menghirup aroma, dan menyentuh halaman buku, aku sudah merasa bahagia.”

Aku –dan semua kutu buku kurasa- sangat setuju dengan kalimat di atas. Apa lagi yang lebih candu selain aroma buku? Siapa yang paling setia menemani kesendirian selain buku?. Dan kalimat di atas adalah salah satu kalimat yang paling aku suka saat membaca Norwegian Wood.  

Aku adalah orang yang bisa dibilang sangat picky soal membeli buku maupun menonton film di bioskop. Ketika orang lain bisa dengan santainya memutuskan menonton film apa ketika sudah sampai di bioskop, aku kebalikannya. Aku harus membaca sinopsisnya dulu dan review dari blogger ataupun IMDB. Pun dengan perihal membeli buku. Aku akan tahu persis buku apa yang ingin kubeli sebelum sampai di toko buku. Perhitungan sekali ya? Haha, tidak juga. Lain cerita kalau sudah mampir di toko buku bekas. 

Membeli novel karya Haruki Murakami ini pun cukup penuh pertimbangan. Awalnya novel ini kubeli karena tertarik oleh review seorang blogger. Dari sinopsisnya cukup menarik, dan profil pengarangnya pun cukup menjanjikan, siapa yang tidak tergiur membaca karya seorang pemenang nobel sastra ?

Jangan harap aku akan menceritakan isi novelnya, karena aku bukan spoiler. Beberapa reviewer mengatakan bahwa membaca Norwegian Wood itu seperti berjalan di dalam lorong yang panjang dan gelap. Namun tidak denganku. Aku mengibaratkan membaca novel ini seperti meminum kopi yang hitam dan pahit, tapi tetap saja habis. Satu peringatanku pada kalian yang berencana membaca novel ini : 
Awas, bisa nambah lagi!