“Berulangkali kubaca buku-buku
itu, atau adakalanya hanya dengan memejamkan mata, menghirup aroma, dan
menyentuh halaman buku, aku sudah merasa bahagia.”
Aku –dan semua kutu buku kurasa- sangat
setuju dengan kalimat di atas. Apa lagi yang lebih candu selain aroma buku? Siapa
yang paling setia menemani kesendirian selain buku?. Dan kalimat di atas adalah salah satu
kalimat yang paling aku suka saat membaca Norwegian Wood.
Aku adalah orang yang bisa
dibilang sangat picky soal membeli buku maupun menonton film di bioskop. Ketika
orang lain bisa dengan santainya memutuskan menonton film apa ketika sudah
sampai di bioskop, aku kebalikannya. Aku harus membaca sinopsisnya dulu dan
review dari blogger ataupun IMDB. Pun dengan perihal membeli buku. Aku akan
tahu persis buku apa yang ingin kubeli sebelum sampai di toko buku. Perhitungan
sekali ya? Haha, tidak juga. Lain cerita kalau sudah mampir di toko buku bekas.
Membeli novel karya Haruki
Murakami ini pun cukup penuh pertimbangan. Awalnya novel ini kubeli karena
tertarik oleh review seorang blogger. Dari sinopsisnya cukup menarik, dan profil
pengarangnya pun cukup menjanjikan, siapa yang tidak tergiur membaca karya
seorang pemenang nobel sastra ?
Jangan harap aku akan
menceritakan isi novelnya, karena aku bukan spoiler. Beberapa reviewer
mengatakan bahwa membaca Norwegian Wood itu seperti berjalan di dalam lorong
yang panjang dan gelap. Namun tidak denganku. Aku mengibaratkan membaca novel
ini seperti meminum kopi yang hitam dan pahit, tapi tetap saja habis. Satu
peringatanku pada kalian yang berencana membaca novel ini :
Awas, bisa nambah lagi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar