1. Dosen
pembimbing ada di ruangan, dan
2. Menemukan
buku referensi yang dicari
Sepele ya ?
tapi justru yang sepele itu terkadang rasanya nikmat sekali. SE-KA-LI. Dan
entah udah berapa kali kita ga menyadari, atau bahkan mendustakan nikmat-nikmat
kecil itu.
To be honest,
masa skripsian ini emang menguras tenaga, waktu dan pikiran. Tenaga, karena
harus bolak-balik Cemani-kampus. Waktu, karena harus menunggu dosen dan
revisian dibalikin. Dan pikiran, karena dari bangun tidur sampe tidur lagi
selalu keinget skripsi, bahkan pernah kebawa mimpi.
Angkatan aku
bisa dibilang lulusnya cepet, sampai detik ini terhitung udah empat kepala yang
sidang. Sedangkan aku? Masih jalan di tempat. Masih di situ-situ aja. Hal ini
bikin aku sering merutuki diri sendiri, kenapa sih yang lain kayanya
mulus-mulus aja, kenapa sih dosbingnya pada enak, kenapa sih tiap minggu pada
bisa konsul tapi aku enggak, dan kenapa sih kenapa sih yang lainnya. Iri gitu,
berasa orang paling menyedihkan di dunia. Selalu aja bawaannya negatif terus.
Tapi untungnya
hal itu ga berlangsung lama. Hari ini setelah selesai konsul ke dosbing, aku
duduk di depan jurusan. Sepi, gak ada orang, dan aku bengong sendiri. Selesai
bengong tiba-tiba aku ngegumam, “aku ini ngapain sih?”
Enggak,
enggak, aku enggak amnesia kok. Jadi tiba-tiba aku refleksi diri sendiri,
mengingat yang udah-udah di mana aku selalu mengeluh dan mengeluh. Enggak
terhitung banyaknya keluhan soal skripsi yang sebenernya ga perlu-perlu banget
dilontarkan.
Kenapa aku
harus mengeluh dapet dosbing ini? Padahal bliyo orangnya sangat kompeten dan
penjelasannya mudah dimengerti untukku yang begonya kebangetan.
Kenapa aku
harus mengeluh tiap minggu ga bisa konsul? Padahal waktu seminggu bisa aku
gunain buat baca lebih banyak.
Kenapa juga
aku harus iri sama temen-temen lainnya? Padahal setiap orang punya jalannya
sendiri-sediri. Punya jatahnya sendiri.
Kenapa harus
melaknati setiap hal? Padahal semua hal bisa dinikmati dengan caranya
masing-masing.
Dan
kebengongan hari ini ditutup dengan kelaparan yang membawaku ke hokben.
Menikmati seporsi nasi pulen dicampur salad yang entah kenapa rasanya bisa
selezat itu.
Ah, ternyata nikmat begitu dekat walaupun tidak selalu terlihat.
Jadi gimana? Masih mau ngeluh
lagi? Plis, deh!