Jumat, 07 Juli 2017

Nikmat-nikmat Kecil yang Terlewat

Hari ini aku menyadari kalau cukup dibutuhkan dua hal aja untuk jadi mahasiswi semseter akhir yang bahagia, yaitu :
1.       Dosen pembimbing ada di ruangan, dan
2.       Menemukan buku referensi yang dicari

Sepele ya ? tapi justru yang sepele itu terkadang rasanya nikmat sekali. SE-KA-LI. Dan entah udah berapa kali kita ga menyadari, atau bahkan mendustakan nikmat-nikmat kecil itu.

To be honest, masa skripsian ini emang menguras tenaga, waktu dan pikiran. Tenaga, karena harus bolak-balik Cemani-kampus. Waktu, karena harus menunggu dosen dan revisian dibalikin. Dan pikiran, karena dari bangun tidur sampe tidur lagi selalu keinget skripsi, bahkan pernah kebawa mimpi.

Angkatan aku bisa dibilang lulusnya cepet, sampai detik ini terhitung udah empat kepala yang sidang. Sedangkan aku? Masih jalan di tempat. Masih di situ-situ aja. Hal ini bikin aku sering merutuki diri sendiri, kenapa sih yang lain kayanya mulus-mulus aja, kenapa sih dosbingnya pada enak, kenapa sih tiap minggu pada bisa konsul tapi aku enggak, dan kenapa sih kenapa sih yang lainnya. Iri gitu, berasa orang paling menyedihkan di dunia. Selalu aja bawaannya negatif terus.

Tapi untungnya hal itu ga berlangsung lama. Hari ini setelah selesai konsul ke dosbing, aku duduk di depan jurusan. Sepi, gak ada orang, dan aku bengong sendiri. Selesai bengong tiba-tiba aku ngegumam, “aku ini ngapain sih?”

Enggak, enggak, aku enggak amnesia kok. Jadi tiba-tiba aku refleksi diri sendiri, mengingat yang udah-udah di mana aku selalu mengeluh dan mengeluh. Enggak terhitung banyaknya keluhan soal skripsi yang sebenernya ga perlu-perlu banget dilontarkan.

Kenapa aku harus mengeluh dapet dosbing ini? Padahal bliyo orangnya sangat kompeten dan penjelasannya mudah dimengerti untukku yang begonya kebangetan.

Kenapa aku harus mengeluh tiap minggu ga bisa konsul? Padahal waktu seminggu bisa aku gunain buat baca lebih banyak.

Kenapa juga aku harus iri sama temen-temen lainnya? Padahal setiap orang punya jalannya sendiri-sediri. Punya jatahnya sendiri.

Kenapa harus melaknati setiap hal? Padahal semua hal bisa dinikmati dengan caranya masing-masing.

Dan kebengongan hari ini ditutup dengan kelaparan yang membawaku ke hokben. Menikmati seporsi nasi pulen dicampur salad yang entah kenapa rasanya bisa selezat itu.

Ah, ternyata nikmat begitu dekat walaupun tidak selalu terlihat.

Jadi gimana? Masih mau ngeluh lagi? Plis, deh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar