Aku punya kebiasaan aneh soal mimpi.
Kalau di rumah, waktu tidur selalu ada mimpi yang muncul. Jadi jaraaaannnggg banget aku merasa nyenyak sepenuhnya saat tidur. Tapi lain soal kalau tidur di tempat yang baru, ga pernah tuh yang namanya mimpi. Nyenyak banget rasanya. Pokoknya tiba-tiba bangun aja dengan rasa bahagia.
Mimpi ku pun cenderung aneh, ga terstruktur, ga jelas pokoknya, dan kebanyakan langsung lupa kalau udah bangun. Mimpi yang bahagia apalagi, jarang banget. Satu-satunya mimpi bahagia yang selalu aku inget cuma mimpi waktu SD. Mimpi ketemu Pedro sama Anna. Itu lho, pemain utama di telenovela 'Amigos' yang tenar banget pada jamannya. Ah, bahagia banget rasanya~~~
Aku pernah baca di mana gitu, kalau waktu tidur sebenarnya roh kita itu lepas dari tubuh. Dan bisa jadi roh kita itu jalan-jalan dan ketemu sama roh lainnya. It means, kalau di mimpi kita ketemu seseorang, sebenernya roh kita emang bener-bener ketemu. Oh gosh! Berarti dulu aku beneran ketemu sama Anna dan Pedro dong? Hehe
Pernah juga ketika aku punya pertanyaan ke seseorang tapi belum kesampaian tanya, aku ketemu dia di mimpi. Aku ingat di mimpi itu aku tanya sesuatu dan dia udah jawab, tapi aku lupa jawabannya apa. Dan bukan cuma sekali, udah kali ketiga aku mimpi seperti ini. Sedih deh. Hiks.
Tadi malem aku juga mimpi. Dan yang menarik, mimpiku tadi malem tuh runtut dan logis, tapi serem. Sumpah serem banget!
Mumpung aku masih inget dan ini juga masih siang, jadi aku mau menuliskannya di sini. Jarang bisa inget mimpi sampe jam segini.
Jadi ceritanya di mimpi itu, ada aku sama empat sahabat aku (dela, uli, linda dan salma). Ceritanya si Salma itu sakit dan harus di opname, dan kita yang jagain dia. Waktu kita udah sampai ke rumah sakit, pihak rumah sakitnya bilang kamarnya udah full dan kamar yang tersisa tinggal kamar di lantai 4 di gedung sebelah. Karena mau gimana lagi ya sudah kita mengiyakan. Kemudian diantarlah kita ke gedung itu.
Waktu masuk ke gedung itu semuanya tampak normal, ya seperti layaknya rumah sakit pada umumnya lah yang ramai. Tapi ketika udah sampai di lantai empat, kondisinya beda banget. Sepi dan pencahayaannya minim, ketika semua semua sudah pakai lampu LED, disitu masih pakai lampu bohlam yang warnanya kuning itu. Waktu kita jalan ke arah kamar, aku lihat di dua kamar sebelah diisi sama pasien juga dan ada suster cowok yang pakai baju seragam orange. Fiuh, untung ga sepi sepi amat, batinku. Dan akhirnya kita masuk kamar tanpa curiga sedikitpun.
Ketika sudah malam, aku bosan di dalam kamar terus. Aku pun keluar kamar, sekalian mau telepon teman. Waktu keluar kamar, aku lihat dua kamar sebelah kosong. Aneh, batinku, tadi kan ada pasien. Lalu aku memutuskan untuk duduk di kursi depan kamar. Di seberang aku lihat ada meja tunggu dan suster cowok yang berseragam orange tadi. Tapi tidak begitu jelas karena tertutup setengah pintu kaca. Dan gelagat suster itu aneh, berkali kali dia melihatku, lebih tepatnya seperti orang nginjen. "Oke fine, ada yang tidak beres, aku harus segera pergi." Walau takut sebenarnya, aku memberanikan diri untuk turun ke lantai satu.
Sampai di lantai satu, aku tidak sengaja bertemu temanku Ibnu.
"Loh yas, ngapain disini?"
"Mau nginep nih, jagain salma yang lagi sakit, kamu ngapain nu?"
"Jenguk temenku yas, salma ada di ruang mana?"
"Ruang apa ya, lupa pokoknya di lantai empat,"
Dari mimik mukanya, ibnu agak kaget, lalu dia bilang "Serius di lantai 4? Kalian gak takut apa, lantai 4 kan terkenal angker,"
Aku pun kaget mendengar jawabannya. Segera aku bertanya ke suster di lantai satu. Aku tanya ada tidak suster jaga di lantai 4 dan ada berapa pasien yang ada di lantai tersebut. Dan tahu tidak apa jawabannya? Tidak ada pasien yang opname selain salma da tidak ada suster jaga di lantai 4, apalagi suster cowok.
Rasanya aku langsung merinding dan kalang kabut. Aku sudah aman di bawah sedangkan sahabat-sahabatku masih di atas sendirian. Tidak tahu harus bagaimana, aku menelfon temanku fika dan minta dia ke rumah sakit. Kemudian aku lari menujj mushola, di situ rupanya sudah ada fika dan hamdan. Aku langsung cerita ke mereka dan menangis sesenggukan, antara takut dan merasa bersalah.
Mereka berdua bilang jangan beritahu salma dan lainnya dulu, jangan bikin mereka panik, apalagi ini sudah larut malam. Dan kemudian aku menelfon linda, dengan suara yang dibuat setenang mungkin "lin aku hari ini ga bisa nginep, aku disuruh pulang, sori ya mendadak, bilangin maaf juga ke salma".
Padahal hari itu aku tetap berada di rumah sakit sampai pagi sambil mendesak suster untuk besok memindahkan mereka ke lantai satu. Akhirnya, esoknya mereka pindah tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak terlalu seram ya sepertinya? Coba deh kamu yang mimpi ini. Please, cukup sekali saja mimpi seperti ini 😂😂😂