Apa yang akan kamu lakukan ketika banyak hal seketika
berkecamuk dalam kepalamu?
Curhat?
Menangis ?
Atau bahkan tidur?
Malam ini entah kenapa banyak hal tiba-tiba berkecamuk dalam
kepalaku. Sampai-sampai terasa sesak. Ingin meluapkan emosi, tapi dalam bentuk
apa. Ingin bercerita, tapi siapa yang mau mendengar. Ingin menulis, tapi
bingung mulai dari mana. Hingga akhirnya sampailah pada bulir-bulir air mata ini
yang mengalir begitu saja. Ah, ternyata aku belum sanggup mengubah kebiasaannku
ini. Jika sudah begini, aku akan memilih menyendiri untuk sementara waktu.
Menghindari bising. Menjadi asing dari yang terasing.
Ya, menyendiri. Aku tidak asing dengan kata itu. Malah
sangat akrab. Seperti malam ini, aku memilih menyendiri (lagi) ditemani seporsi
bakso di sebuah tempat makan bernuansa joglo. Aku tidak menghitung berapa
pasang mata yang mendelik aneh melihatku. Aku tidak peduli. Aku hanya peduli pada semua
yang ada di benakku dan semangkok bakso di hadapanku.
Aku sering bingung, kenapa orang sangat asing dengan kata
sendiri? Tidak ingatkah mereka bahwa pada dasarnya manusia itu sendiri? Manusia
lahir dan menemui ajalnya seorang diri bukan?
Aku pribadi menganggap menyendiri bukanlah suatu
penderitaan, melainkan suatu kebutuhan. Bukan karena tidak ada kawan, melainkan
keinginan. Bukan meratapi diri, melainkan menenangkan hati.
Setelah menandaskan bakso sampai ke kuahnya yang nikmat
karena micin, aku pun bergegas pulang. Saat perjalanan pulang sengaja
kupelankan motorku untuk menikamti suasana malam ini. Kulihat langit pun
menangis, tapi tangis manja. Gerimis manja. Kau tahu, gerimis yang cukup deras tapi tidak akan membuatmu basah kuyup.
Yang membuat orang terkecoh dan menebak-nebak apakah sebentar lagi akan berubah
menjadi deras.
Sepertinya langit tahu hatiku menagis, lantas ia menemaniku
dengan gerimis. Seketika aku tersadar dari lamunanku. Aku teringat quote dari
salah satu penulis favoritku, Paulo Coelho, yang bunyinya “Ketika kamu
menginginkan sesuatu, segenap jagat raya akan berkonspirasi untuk membantumu
meraihnya”. Aku sangat mempercayai kalimat itu dan selalu kusimpan dalam
memori.
Dan malam ini aku baru saja menyadari sesuatu, yaitu ketika
kita merasa sendiri, sesungguhnya jagat raya juga ikut menemani kesendirian kita.
Ya. Kesendirian bukan berarti kesepian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar