Jumat, 15 Januari 2016

Latah Informasi



Seminggu terakhir ini, tercatat ada tiga topik (di luar dunia politik) yang menarik perhatian. Pertama, meninggalnya seorang wanita selepas terapi chiropractic. Kedua, meninggalnya seorang wanita setelah meminum secangkir kopi Vietnam. Keempat, hilangnya seorang dokter yang mengikuti sebuah ormas sesat bernama Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR). Dan yang keempat, yang sedang hangat-hangatnya diberitakan, yaitu ledakan bom di sebuah gerai kopi internasional yang berlokasi di pusat perbelanjaan Sarinah. Tidak hanya satu, tapi enam ledakan dalam satu hari di tempat yang berdekatan.  

Disini saya mau membahas topik yang keempat, ledakan bom pada hari kamis kemarin (14/1). Sekitar pukul 11.00 WIB, stasiun tv secara serempak memberitakan tentang ledakan tersebut. Saya yang ketika itu berada di kampus untuk mengurus surat magang, sontak ikut bergabung dengan satpam dan karyawan kampus sejenak untuk melihat berita tersebut di lobby. Seram, batin saya. Tapi saya juga membatin, pasti sosial media ramai sekali.

Dan benar saja, buru-buru saya cek sosial media dan aplikasi chatting saya. Ternyata sudah penuh dengan status, “hari ini batas penawaran saham freeport, hati –hatipengalihan isu“. Dan tak lama kemudian muncullah hastag #prayforjakarta. 

Nah, di sini yang menarik. Setelah ramai #prayforjakarta, kemudian datanglah broadcast berantai seperti berikut ini :
Guys menanggapi aksi pengeboman di 6 lokasi di Jakarta. PLEASE, jangan bikin hastag. Jangan mau jadi buzzer gratisan. Ini tujuannya world attentions. NO (hastag) PRAYFORJKT. Makin kalian bikin, rupiah bisa 17 rb.
Ø  Kalian semua bikin hastag
Ø  Trending
Ø  Worlwide
Ø  Investor cemas direct invest flow ditarik
Ø  Uang beredar naik saving turun
Ø  Suku bunga naik
Ø  Kredit gagal bayar
Ø  Rupiah lemah
Ø  Inflasi
Ø  Krisis
Jangan bikin psikologi dunia rusak. Kalo mau social campaign bikin yg positif. 

Lho lho, bagaimana sih, masa kepedulian masyarakat Indonesia lewat hastag yang sudah menjadi kebiasaan manusiawi ini malah tidak dibolehkan. Sekilas broadcast tersebut terlihat meyakinkan, terlebih untuk mereka yang bukan anak ekonomi, sekali baca bisa “iya juga ya”. Saya, yang dari awal memilih untuk tidak ikut membuat hastag pun juga tidak ikut menyebarkan broadcast tersebut, lha wong ndak ada sumbernya. Tapi saya khawatir juga, nanti sundae mekdi jadi tambah mahal dong.

Lalu kemudian, muncullah lagi status dari sebuah akun kelompok mahasiswa bejaket kuning  “IHSG menurun bukan hanya karena hastag #prayjakarta, please jadi rasional juga.” 

Nah lo, tadi katanya tidak usah bikin, sekarang malah dibolehin. Bagaimana sih, di saat genting seperti ini malah kita seperti terombang-ambingkan lautan informasi.  Bayangkan, hanya karena hashtag, pada waktu tersebut masyarakat seolah-olah terbagi dalam dua kubu. 

Please guys, kita semua hidup di era yang serba cepat, informasi bisa menyebar sepersekian detik. Itulah kenapa penting adanya untuk kita menyaring informasi terlebih dahulu sebelum mempercayainya. Jangan malah menyebarkan informasi setengah-setengah dan menularkan kepanikan. Dan terbukti, rupiah hanya menyentuh level 13.902 di waktu tersebut, dan esoknya rupiah kembali menguat di angka 13.800 sekian.  

Lantas soal pengalihan isu? Mungkin ini ulah pihak ketiga yang ingin mengaitkan dua hal tersebut agar dia mendapat keuntungan.  Mungkin, siapa tahu, kan yang otak pelaku teror bom saja alumni mahasiswa MIPA yang berambisi menguasai Asia Tenggara. Duh, kecewa deh, padahal kan anak MIPA itu terkenal alim. Padahal kan saya pingin dapet pacar anak MIPA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar