Seminggu
terakhir ini, tercatat ada tiga topik (di luar dunia politik) yang menarik
perhatian. Pertama, meninggalnya seorang wanita selepas terapi chiropractic.
Kedua, meninggalnya seorang wanita setelah meminum secangkir kopi Vietnam.
Keempat, hilangnya seorang dokter yang mengikuti sebuah ormas sesat bernama Gerakan
Fajar Nusantara (GAFATAR). Dan yang keempat, yang sedang hangat-hangatnya
diberitakan, yaitu ledakan bom di sebuah gerai kopi internasional yang
berlokasi di pusat perbelanjaan Sarinah. Tidak hanya satu, tapi enam ledakan
dalam satu hari di tempat yang berdekatan.
Disini saya
mau membahas topik yang keempat, ledakan bom pada hari kamis kemarin (14/1). Sekitar
pukul 11.00 WIB, stasiun tv secara serempak memberitakan tentang ledakan
tersebut. Saya yang ketika itu berada di kampus untuk mengurus surat magang,
sontak ikut bergabung dengan satpam dan karyawan kampus sejenak untuk melihat
berita tersebut di lobby. Seram, batin saya. Tapi saya juga membatin, pasti
sosial media ramai sekali.
Dan benar
saja, buru-buru saya cek sosial media dan aplikasi chatting saya. Ternyata
sudah penuh dengan status, “hari ini batas penawaran saham freeport, hati –hatipengalihan
isu“. Dan tak lama kemudian muncullah hastag #prayforjakarta.
Nah, di sini
yang menarik. Setelah ramai #prayforjakarta, kemudian datanglah broadcast
berantai seperti berikut ini :
Guys menanggapi aksi pengeboman di 6 lokasi
di Jakarta. PLEASE, jangan bikin hastag. Jangan mau jadi buzzer gratisan. Ini
tujuannya world attentions. NO (hastag) PRAYFORJKT. Makin kalian bikin, rupiah
bisa 17 rb.
Ø
Kalian
semua bikin hastag
Ø
Trending
Ø
Worlwide
Ø
Investor
cemas direct invest flow ditarik
Ø
Uang beredar
naik saving turun
Ø
Suku bunga
naik
Ø
Kredit gagal
bayar
Ø
Rupiah lemah
Ø
Inflasi
Ø
Krisis
Jangan bikin psikologi dunia rusak. Kalo mau social campaign bikin yg
positif.
Lho lho,
bagaimana sih, masa kepedulian masyarakat Indonesia lewat hastag yang sudah
menjadi kebiasaan manusiawi ini malah tidak dibolehkan. Sekilas broadcast
tersebut terlihat meyakinkan, terlebih untuk mereka yang bukan anak ekonomi,
sekali baca bisa “iya juga ya”. Saya, yang dari awal memilih untuk tidak ikut membuat
hastag pun juga tidak ikut menyebarkan broadcast tersebut, lha wong ndak ada sumbernya. Tapi saya khawatir juga, nanti sundae
mekdi jadi tambah mahal dong.
Lalu kemudian,
muncullah lagi status dari sebuah akun kelompok mahasiswa bejaket kuning “IHSG menurun bukan hanya karena hastag
#prayjakarta, please jadi rasional juga.”
Nah lo, tadi katanya tidak usah bikin,
sekarang malah dibolehin. Bagaimana sih, di saat genting seperti ini malah kita
seperti terombang-ambingkan lautan informasi. Bayangkan, hanya karena hashtag, pada waktu
tersebut masyarakat seolah-olah terbagi dalam dua kubu.
Please guys, kita semua hidup di era yang
serba cepat, informasi bisa menyebar sepersekian detik. Itulah kenapa penting
adanya untuk kita menyaring informasi terlebih dahulu sebelum mempercayainya. Jangan
malah menyebarkan informasi setengah-setengah dan menularkan kepanikan. Dan
terbukti, rupiah hanya menyentuh level 13.902 di waktu tersebut, dan esoknya
rupiah kembali menguat di angka 13.800 sekian.
Lantas soal
pengalihan isu? Mungkin ini ulah pihak ketiga yang ingin mengaitkan dua hal
tersebut agar dia mendapat keuntungan. Mungkin,
siapa tahu, kan yang otak pelaku teror bom saja alumni mahasiswa MIPA yang
berambisi menguasai Asia Tenggara. Duh, kecewa deh, padahal kan anak MIPA itu
terkenal alim. Padahal kan saya pingin dapet pacar anak MIPA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar