Namanya Hujan. Nama yang cukup aneh
bagiku. Karena ketika yang lain bernama ke barat-baratan seperti Daniel,
justin, michelle, dan lain sebagainya, kedua orang tuanya lebih memilih untuk
memberi nama Hujan padanya. Mungkin karena Hujan lahir di kala hujan, atau
mungkin Hujan dibuat ketika sedang hujan?
Sesuai namanya, dia juga menyukai
hujan. Seperti bunglon yang dapat melakukan mimikri, Hujan juga dapat melakukan
mimikri saat musim hujan tiba. Bukan, Hujan tidak berganti warna kulit,
melainkan ia hanya berganti sifat. Di sepanjang musim kemarau, dia terlihat
biasa saja. Bicara seperlunya, tertawa seadanya. Tapi jika sudah masuk musim
hujan, entah mengapa dia menjadi sangat ceria. Senyumnya selalu tersungging.
Walau namanya Hujan tapi dia membawa senyum seindah bulan sabit. Manis. Indah.
Syahdu.
Hujan tidak
menyukai terik. Baginya, keluar ruangan di kala cuaca terik adalah malapetaka.
Itulah mengapa ia jarang keluar rumah, jarang bermain dan berolah raga di siang
hari. Namun ketika malam, dia bisa pergi kemana saja yang dia mau. TIdak tidur
pun sering, “Aku kemarin marathon Empire season
dua lho, dari awal sampe tamat. Gila ya, Sky bisa bikin si Jamal straight”, itulah yang dia katakan tadi
pagi, lingkar matanya masih hitam, hampir menyerupai make up smoky eyes.
Sejujurnya aku kagum dengan Hujan, dia adalah pendengar yang baik.
Teman-temanku suka curhat padanya, tidak jarang ceritanya sambil menangis.
Setelah mereka curhat pada Hujan, keadaan mereka terlihat jauh lebih baik. Aku
jadi teringat dengan karakter Sad di
film Inside Out. Pantas orang-orang
menyukainya, setelah mereka hujan air mata dan bertemu Hujan, pelangi terbit
dari mata mereka. Hujan menampung kesedihan, tapi setelahnya menerbitkan
kelegaan. Kebahagiaan.
Hujan juga
pandai membuat puisi. Saat hujan tiba, kelihaian Hujan membuat puisi semakin
menjadi. Gemericik bunyi hujan membawa tetesan ide. Seperti di hujani
inspirasi, katanya. Tidak seperti aku, yang mampu menyusun deretan kata menjadi
sebuah puisi ketika dilanda galau saja.
Tapi satu kekurangan
Hujan, dia sangat pelupa. Kemanapun dia pergi, ke toilet, ke kantin, ke mall,
ke toko buku, ke pasar sekalipun dia selalu membawa note kecil kesayangannya.
Katanya itu adalah barang wajib yang harus ia bawa kemanapun, jaga-jaga kalau
dia terbersit sajak yang bagus sehingga bisa langsung mencatatnya. Hujan
sepertinya lupa, kalau saat ini ada kecanggihan teknologi yang bernama
smartphone.
Tidak banyak
yang tahu kalau Hujan pernah “jatuh hati”. Kata jatuh dengan arti yang
sesungguhnya. Sudah bertahun-tahun dia menyukai seseorang, sebut saja
inisialnya T. Tapi rasa sukanya tidak pernah terbalas. Si T, sudah mempunyai
kekasih, berganti beberapa kali malah, tetapi Hujan terus menunggunya. “Bodoh,
lupakan saja dia”, kataku. Tapi entah apa yang membuatnya bersikukuh dengan
pilihannya, dia seperti kecanduan. Candu terhadap sakit hati yang selalu sama.
Walau begitu Hujan tidak pernah
mengeluh. Dia percaya akan quote dari
Paulo Coelho, penulis favoritku, begini katanya, “When you want something, all the universe conspires in helping you to
achieve it”. Aku juga percaya, tapi tidak jika sudah membawa cinta. Tidak
relevan.
Sampai sekarang Hujan masih menunggu
cintanya, entah sampai kapan. Sekarang aku paham kenapa dia di beri nama Hujan.
Karena sifatnya seperti hujan. Hujan selalu jatuh berulang kali, namun tetap
hadir untuk kesekian kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar