Selasa, 08 Desember 2015

TONGGERET



Sebelumnya aku tidak pernah melihat bagaimana bentuk serangga yang disebut tonggeret, mendengar namanya pun baru di semester lima ini. Jadi jangan tanya tentang serangga bernama tonggeret, karena aku tidak tahu apa-apa dan tidak berminat mengetahuinya. Kenapa? karena dia serangga, dan aku tidak suka berhadapan dengan  serangga. Menurutku semua serangga itu seram. Serangga yang bernama kupu-kupu yang kata orang  indah nan elok pun aku tidak suka. Kalau tidak suka, ya tidak suka. Titik.    
Membicarakan kupu-kupu aku jadi ingat sesuatu, kamu pernah lihat kartun Spongebob Squarepants  yang episode dia sama Patrick menangkap kupu-kupu dan seluruh kota berantakan ?  nah, seram kan?. Temanku pernah berkata seperti ini “kamu kok aneh, gak suka sama kupu-kupu, kan sayapnya cantik ?” lalu aku jawab “kamu yang aneh. Kamu ga suka kucing. Padahal kucing kan lucu.” Kemudian kami berdua marahan, tidak bicara untuk beberapa hari. Hanya karena masalah aku tidak suka kupu-kupu dan dia tidak suka kucing. Kekanak-kanakan ya? Tentu, karena saat itu kami masih duduk di taman kanak-kanak.
Namun karena aku harus membuat tulisan sepanjang 500 kata ini yang bertemakan tonggeret, mau tidak mau aku harus mencari tahu apa itu tonggeret, dengan berat hati. Biasanya stalking gebetan, eh orang maksudnya, ini harus stalking serangga. Dan terimakasih untuk Wikipedia, yang memberitahu aku apa itu tonggeret.
Pertama, tonggeret itu mirip lalat, hanya saja lebih besar ukuran tubuhnya. Di gambar matanya merah seperti habis berenang di kolam renang berkaporit. Mungkin dia juga yang menginspirasi  Shotaro Isinomori untuk membuat serial Kesatria Baja Hitam (Kamen Rider). Jadi jauh sebelum Marvel membuat Ant-man, sudah ada superhero yang terinspirasi dari serangga. Dan waktu si Kotaro Minami berubah menjadi superhero dengan bentuk serangga, sampai sekarang aku masih bertanya-tanya “dia berubah jadi lalat ya?”.  Sekarang aku sadar Kamen Rider lebih mirip tonggeret. Tapi, memangnya tonggeret juga hidup di Jepang ya?
Kedua, tonggeret dapat mengeluarkan bunyi nyaring dari alat penghasil suara di bawah sayapnya. Serangga dapat bersuara? Yang aku tahu paling cuma suara nyamuk. Tonggeret “berdendang” biasanya diyakini sebagai pertanda dimana musim hujan sudah berakhir. Dan tonggeret jantan juga “berdendang“ untuk menarik perhatian si betina agar mau menghampirinya. Ternyata, tidak hanya manusia yang mampu menarik perhatian lawan jenis.  Tapi sayangnya, setelah mereka kawin, si betina akan bertelur dan kemudian mati. Cinta memang perlu pengorbanan, ya?
Ketiga, tonggeret punya fase hidup yang panjang. Bayangkan, dia harus menjadi larva sekitar delapan sampai 17 tahun. Ketika manusia sudah merayakan sweet seventeen, dia baru keluar dari cangkang telurnya. Setelah keluar dari cangkang telur pun dia harus menarik perhatian si betina untuk kawin dan bertelur. Setelah “berdendang” sekitar 6 hari kemudian dia pun akan mati menyusul si betina. Belasan tahun berjuang hidup di dalam cangkang telur, namun saat keluar dia hanya hidup sebentar di dunia. Lantas, apa gunanya dia hidup?
Sebagai pembenci serangga, aku tidak menutup mata jika segala sesuatu tercipta karena suatu hal. Lalat misalnya, dia dapat memberitahu kita apakah sebuah tahu itu berformalin atau tidak.
Lalu apa fungsi tonggeret hidup di dunia? Aku tidak tahu. Untuk mewarnai ragam serangga mungkin.
Sudah ya, aku agak geli teringat gambar tonggeret.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar