Sebelumnya aku tidak
pernah melihat bagaimana bentuk serangga yang disebut tonggeret, mendengar
namanya pun baru di semester lima ini. Jadi jangan tanya tentang serangga
bernama tonggeret, karena aku tidak tahu apa-apa dan tidak berminat
mengetahuinya. Kenapa? karena dia serangga, dan aku tidak suka berhadapan
dengan serangga. Menurutku semua
serangga itu seram. Serangga yang bernama kupu-kupu yang kata orang indah nan elok pun aku tidak suka. Kalau
tidak suka, ya tidak suka. Titik.
Membicarakan kupu-kupu
aku jadi ingat sesuatu, kamu pernah lihat kartun Spongebob Squarepants yang episode dia sama Patrick menangkap
kupu-kupu dan seluruh kota berantakan ? nah,
seram kan?. Temanku pernah berkata seperti ini “kamu kok aneh, gak suka sama
kupu-kupu, kan sayapnya cantik ?” lalu aku jawab “kamu yang aneh. Kamu ga suka
kucing. Padahal kucing kan lucu.” Kemudian kami berdua marahan, tidak bicara
untuk beberapa hari. Hanya karena masalah aku tidak suka kupu-kupu dan dia
tidak suka kucing. Kekanak-kanakan ya? Tentu, karena saat itu kami masih duduk
di taman kanak-kanak.
Namun karena aku harus
membuat tulisan sepanjang 500 kata ini yang bertemakan tonggeret, mau tidak mau
aku harus mencari tahu apa itu tonggeret, dengan berat hati. Biasanya stalking gebetan,
eh orang maksudnya, ini harus stalking serangga. Dan terimakasih untuk
Wikipedia, yang memberitahu aku apa itu tonggeret.
Pertama, tonggeret itu
mirip lalat, hanya saja lebih besar ukuran tubuhnya. Di gambar matanya merah
seperti habis berenang di kolam renang berkaporit. Mungkin dia juga yang
menginspirasi Shotaro Isinomori untuk
membuat serial Kesatria Baja Hitam (Kamen Rider). Jadi jauh sebelum Marvel
membuat Ant-man, sudah ada superhero yang terinspirasi dari serangga. Dan waktu
si Kotaro Minami berubah menjadi superhero dengan bentuk serangga, sampai
sekarang aku masih bertanya-tanya “dia berubah jadi lalat ya?”. Sekarang aku sadar Kamen Rider lebih mirip
tonggeret. Tapi, memangnya tonggeret juga hidup di Jepang ya?
Kedua, tonggeret dapat
mengeluarkan bunyi nyaring dari alat penghasil suara di bawah sayapnya.
Serangga dapat bersuara? Yang aku tahu paling cuma suara nyamuk. Tonggeret
“berdendang” biasanya diyakini sebagai pertanda dimana musim hujan sudah
berakhir. Dan tonggeret jantan juga “berdendang“ untuk menarik perhatian si
betina agar mau menghampirinya. Ternyata, tidak hanya manusia yang mampu
menarik perhatian lawan jenis. Tapi sayangnya,
setelah mereka kawin, si betina akan bertelur dan kemudian mati. Cinta memang
perlu pengorbanan, ya?
Ketiga, tonggeret punya
fase hidup yang panjang. Bayangkan, dia harus menjadi larva sekitar delapan
sampai 17 tahun. Ketika manusia sudah merayakan sweet seventeen, dia baru keluar dari cangkang telurnya. Setelah
keluar dari cangkang telur pun dia harus menarik perhatian si betina untuk
kawin dan bertelur. Setelah “berdendang” sekitar 6 hari kemudian dia pun akan
mati menyusul si betina. Belasan tahun berjuang hidup di dalam cangkang telur,
namun saat keluar dia hanya hidup sebentar di dunia. Lantas, apa gunanya dia
hidup?
Sebagai pembenci
serangga, aku tidak menutup mata jika segala sesuatu tercipta karena suatu hal.
Lalat misalnya, dia dapat memberitahu kita apakah sebuah tahu itu berformalin
atau tidak.
Lalu apa fungsi tonggeret
hidup di dunia? Aku tidak tahu. Untuk mewarnai ragam serangga mungkin.
Sudah ya, aku agak geli
teringat gambar tonggeret.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar