Sabtu, 12 Desember 2015

Beauty Is Pain



Berbicara mengenai wajah, aku jadi teringat pada perkataan mas-mas salon yang agak ngondek. Waktu itu dia sedang mengcurly rambutku dan aku mengeluh kepanasan, “beauty is pain say, bentar lagi, sabar ya”. Sejak saat itulah aku mengenal kalimat beauty is pain.
I used to think that beauty is pain, some people say “no, beauty is not that pain”. But, are sure? Katakanlah kamu harus melakukan facial agar wajahmu bersih, katakanlah kamu harus pakai korset agar badanmu terlihat lebih ramping, tidakkah itu sakit? The pain of beauty is real, babe, and you don’t have to shy to say.
Yang aku tahu, ada dua macam jenis kecantikan manusia. Cantik yang berasal dari luar (outside) dan cantik dari dalam (inside). Namun kecantikan wajah adalah keniscayaan. Beberapa minggu lalu aku membacara artikel di sebuah surat kabar ternama di kotaku. Penulis artkel tersebut mengutip kata-kata dari mantan Miss Venezuela, dan aku langsung tersenyum kecut membacanya. Inti dari apa yang dikatakan Miss Venezuela itu adalah “kecantikan dari dalam itu sebenarnya tidak ada, itu hanyalah sebuah ilusi dari wanita yang merasa kurang dalam hal fisik.” Plak! Seketika menampar para wanita yang percaya akan beauty inside of them. Tidak heran dia mengatakannya tanpa beban. Dia mantan pemenang kontes kecantikan. Dia sudah diakui cantik dalam hal fisik.
            Lho, sebenarnya aku berpihak di kubu mana sih? Kubu yang setuju cantik dari luar atau dari dalam? Tidak, aku tidak sedang berpihak pada kubu manapun. Ini bukan pilkada serentak teman-teman. Aku hanya memaparkan bagaimana pemikiranku selama ini tentang definisi cantik yang masih nggrambyan.
Aku setuju jika cantik bukan melulu soal fisik.Tapi aku juga setuju, jika cantik dari dalam tidak akan terlihat jika wajahmu kusam dan tidak terawat. Semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Cantik dari luar dapat seketika terlihat, tapi seiring berjalannya waktu kecantikan itu bisa pudar. Cantik dari dalam tidak langsung terlihat, tapi seiring berjalannya waktu kecantikan itu bisa terlihat.
Cantik dari dalam dapat diidentikkan dengan hati yang baik, jujur, ramah, dan sebagainya yang termasuk dalam kategori baik. Tapi bagaimana dengan cantik dari luar? Identik dengan apakah dia? Ini yang menjadi soal.
Cleopatra sebagai ikon kecantikan, dipercaya sebagai sosok yang mempunyai tubuh langsing, kulit putih, rambut tebal dan hidung mancung. Aku tidak terlalu percaya dengan penggambaran ini. Karena pada zaman tersebut tidak ada kamera, bisa saja ini imajinasi orang yang menemukan kepingan sejarah soal Cleopatra.
Terlepas dari benar tidaknya penggambaran tentang Cleopatra, kita tidak dapat menutup mata jika dia adalah kiblat dari kecantikan. Terbukti dari larisnya jasa pemutihan kulit, pemancungan hidung, dan sedot lemak. Pernah lihat model Victoria Secrets berbadan gempal? Kalau ada mungkin bisnis lingerienya makin laris.
Harusnya aku membicarakan tetang wajah saja, tapi maaf jika terlalu melebar pada kecantikan secara general. Karena wajah dan kecantikan atau ketampanan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Soal tampan, yang namanya Nyle Di Marco itu tampan bukan main lho. Alisnya tebal, matanya teduh, jambangnya menawan dan perutnya six pack. Siapa sih Nyle? He is a deaf, but he is crowned as the winner of America’s Next Top Model cycle 22!
Maaf ya, ga fokus….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar