Minggu, 16 Agustus 2015

Karena Pramuka, Aku Ada.

"Tepuk Pramuka!"
"Prok prok prok! Prok prok prok! PRA-MU-KA, Praja Muda Karana!"

Maih inget kan tepuk diatas? berhubung tanggal 14 Agustus kemarin adalah peringatan hari pramuka, aku pengen nulis tentang pengalamanku ikut pramuka waktu SMP. Biar bisa dibaca anak cucu, kan kali aja beberapa puluh tahun lagi pramuka udah musnah karena enggak diwajibin, secara anak sekarang takut ninggalin gadget. Ah! children nowadays, they don't know what they're missed :(

Sebenernya nulis ini karena  flashback. Atau istilah kekiniannya baper. Semua orang pasti mempunyai momen yang membekas di hati. Dan salah satu momen bagiku pribadi yang aku rasa paling membekas adalah Pramuka.Terhitung waktu SMP dan SMA aku ikut tiga ekstrakurikuler, Pramuka, Paskibra dan OSIS. Tetapi ya yang menurutku paling membekas di hati ya cuman waktu ikut pramuka SMP.

Kalo dipikir pikir aku juga ga ngerti kenapa ya kok pramuka. Disaat orang lain memandang anak pramuka itu cupu, aku malah demen ikut pramuka. Yakin deh, waktu temen-temnku yang lain ngerasa males dan terbebani ikut pramuka, aku ga pernah sekalipun ngerasa males bahkan hari jumat itu hari yang aku nanti-nanti. Walaupun keringetan, ketek pada basah dan mbak mbak Dewan Penggalang (DP) kadang galak waktu ngajarin baris. Tapi aku gak keberatan. Soalnya setiap pertemuan pasti ada yang baru, ga pernah ngebosenin.

Awalnya karena kelas satu pramuka itu ekstrakurikiuler wajib, jadi mau gak mau semua murid harus ikut. Baru kelas duanya boleh milih mau lanjut atau enggak .jadi DP, dan pastinya aku lanjut, hehe. Tapi aku bukan kakak DP yang galak kok :( Disini DP kerjanya ngebimbing adek adek, mentransfer ilmu yang didapet dulu.   

Bagiku, ikut pramuka itu asyik. Se-asik slogannya majalah bobo "bermain dan belajar", pramuka juga gitu. Pramuka ga melulu tepuk tepuk dan nyanyi. Itu buat anak SD kali. Di pramuka SMP kita belajar banyak, mulai dari mengenal rasi bintang sampe kode morse. Dan kegiatan kemah adalah yang paling ditunggu. Dan mencari jejak yang paling asik walau abis itu kaki pada kaku semua. 

Pramuka juga tempat menyalurkan minat dan bakat. Kalo mau belajar bidang kesehatan ada yang namanya satuan karya (saka) bakti husada, mau belajar tentang alam ada saka bahari, mau belajar tentang lalu lintas ada saka lantas, dan saka saka lainnya yang total ada 17 saka. Jadi bisa dibilang, ekstra seperti PMR. PKS, Paskibra, dan pecinta alam itu akarnya dari pramuka, tapi bercabang jadi lebih spesifik.

Buat aku pribadi, ikut pramuka bikin aku gak silence syndrome lagi. That's why judulnya nyontek perkataannya Rene Descartes yang "Aku berpikir maka aku ada" jadi "Karena Pramuka, aku ada". Sebelum ikut Pramuka aku termasuk anak yang pendiem dan pemalu. Tapi setelah ikut pramuka aku ngerasa jauh lebih berani dan ekspresif. Ga kebayang kalo semisal dulu ga ikut pramuka, mungkin ga bakal masuk Ilmu Komunikasi juga deh haha.

Disini juga aku mulai bisa bersosialisasi, mempelajari berbagai karakter orang, dan belajar untuk jadi lebih dewasa. Ada waktunya harus mertahanin ego dan berlapang dada. Ada waktunya berbagi dan cukup mendengar. Belajar teamwork, tenggang rasa dan peka terhadap lingkungan. Yang jelas, jadi lebih pede untuk jadi diri sendiri, sadar gak sadar ngebentuk karakter diri sendiri juga.

Nah, that's little story about the greatest moment of my life and i called it one of my turning point. Mau cerita banyak dan lebih detail sih, tapi ntar kepanjangan kasian yang mau pada baca haha. Intinya, jangan malu ikut Pramuka. Biar dikata Pramuka itu cupu dan so yesterday banget, selama kamu suka dan dapet manfaatnya kenapa engga? Temen aku dulu karena pramuka aja bisa sampe Korea.

Semoga di ulang tahun pramuka yang ke 54 ini image pramuka bisa dipandang keren dimata anak muda sekarang biar terus eksis sampe beranak cucu.

Salam Pramuka!


Foto diambil enam tahun yang lalu, sehabis pelantikan Dewan Penggalang. Masih pakai Hape Nokia jadul tapi sudah mendewa di jamannya. 






Senin, 04 Mei 2015

Bantu Sesama Sembari Cari Muka Depan Tuhan


Kenyataan bahwa era digital saat ini sangat mengubah pola hidup maupun perilaku masyarakat ke arah yang cenderung negatif memang tidak dipertanyakan lagi. Tetapi, apakah sisi kemanusiaan  dalam diri masyarakat juga ikut berubah? Sebuah gerakan yang dinamai Sedekah Rombongan menjawabnya dengan pembuktian, bahwa masih banyak yang peduli pada sesama  di era digital ini. 
 
Berawal dari tulisan dalam sebuah blog pribadi milik Saptuari Sugiharto, gagasan membentuk suatu gerakan sedekah jalanan pun muncul. Tulisan dari founder sedekah jalanan ini membahas mengenai seorang bernama Puteri Herlina, seorang penyandang difabel yang tidak memiliki tangan sejak lahir dan dirawat oleh panti asuhan Sayap Ibu di Jogjakarta. Tulisan tersebut mendapat respon luar biasa dari kawan-kawan blogger, dan dari sanalah kemudian banyak SMS serta mention di twitter yang ingin menitipkan sedekah.
Saptuari mengatakan tanggal sembilan Juni 2011 menjadi momen penting dimana gerakan ini resmi didirikan dan dinamai Sedekah Rombongan. “Sedekah Rombongan  mengambil konsep seperti semut, sendiri dia lemah, kalau barengan biskuit saja bisa diangkat,” ujarnya.
Dengan Visi “Mencari muka di depan Tuhan” dan misi “Menyampaikan titipan langit tanpa rumit sulit dan berbelit belit,” Sedekah Rombongan menjadi garda terdepan untuk membantu masyarakat di luar sana yang membutuhkan pertologan jasmani maupun rohani. 

Kekuatan TTW
Seiring dengan begitu banyaknya kawan dan pengguna twitter yang ingin menitipkan dan menyampaikan sedekah lewat gerakan ini, Sedekah Rombongan kini telah hadir di sembilan kota di Indonesia  dan telah banyak member manfaat bagi masyarakat setempat.
Koodinator wilayah Solo, Lastiko Harimurti mengaku bahwa gerakan Sedekah Rombongan memang lebih banyak menggunakan media sosial dalam sistem kerjanya. Berawal dari follow akun @SRbergerak pula dia mengetahui dan memutuskan bergabung dengan Sedekah Rombongan. “Uniknya Sedekah Rombongan adalah kuatnya Trust, Twitter dan Web (TTW),” ujarnya.
Tidak hanya lewat twitter dan web, Sedekah Rombongan juga memanfaatkan dengan baik sosial media lainnya yang dirasa sangat efektif dalam mengabarkan informasi kepada masyarakat. “Dengan adanya sosmed orang jadi mudah bersedekah, mereka jadi tahu kemana saja sedekahnya disampaikan. Terpantau online 24 Jam melalui twitter, web, facebook dan instagram” jelas Saptuari.
Nantinya, jumlah semua santunan tersebut akan dilaporkan di web secara transparan. Sedekah rombongan hingga saat ini tercatat sudah menyampaikan santunan sebesar 21 milyar lebih, dan santunan tersebut disampaikan untuk bantuan dan operasional.
Selain menghimpun dana lewat media sosial, gerakan ini juga melakukan publikasi dan kegiatan nyata seperti seminar dan presentasi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan berita tentang keluarga kita diluar sana yang saat ini sedang menjerit lapar, kesakitan dibalik dinding rumah sakit, di dalam rumah berlantai tanah yang semuanya perlu pertolongan kita sebagai sesama manusia.
Untuk sasaran penerima santunan sendiri, Sedekah rombongan mengerucutkannya berdasarkan prioritas. Prioritas tersebut antara lain panti asuhan anak cacat, panti asuhan bayi terlantar, panti asuhan yatim piatu, janda tua dhuafa, orang sakit yang tidak mampu, biaya sekolah anak yatim dan dhuafa, pondok pesantren dan masjid yang sedang dibangun atau kekurangan, serta kebutuhan alat ibadah.

WorkFlow
Sebagai sebuah gerakan sedekah jalanan yang tidak memiliki kantor, relawan yang disebut dengan “kurir” selalu berkoordinasi dan membuat administrasi di dunia maya. “Biasanya diadakan gathering para kurir sewilayah, dan se-Indonesia ketika ada rapat, karena hubungan utama lewat whatsapp soalnya,” tutur Lastiko.
Sedekah Rombongan mempunyai tiga WorkFlow, yaitu survey, santuni dan dampingi. Lastiko menjelaskan bahwa awalnya akan ada informasi yang masuk mengenai pasien dari web, twitter atau ditemukan kurir sendiri yang kemudian akan di survey oleh kurir, dan selanjutnya akan dibahas di dalam grup yang nantinya diputuskan untuk diberikan santunan lepas atau dampingan. “Santunan lepas ialah memberi sekali dengan sejumlah banyak uang dan dampingan ialah mendampingi pasien dari awal berobat sampai selesai pengobatan,” terang Lastiko.
Tidak jarang, pasien yang dibantu Sedekah Rombongan adalah mereka yang terkena penyakit ganas seperti kanker dan tumor, yang tentu dalam pengobatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Untuk memudahkan pengobatan dan pendampingan pasien, saat ini Sedekah Rombongan telah memiliki Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) di beberapa kota sebagai tempat transit pasien yang berobat jalan rujukan dari RSUD luar kota. Dan juga sudah memiliki 18 MTSR atau mobil Tanggap Sedekah Rombongan yang berfungsi sebagai ambulance untuk memudahkan pergerakan antar jemput pasien. 

Ladang Ibadah
Gencarnya publikasi dan sosialisasi melalui media sosial, membuat gerakan sedekah rombongan tidak hanya semakin dikenal oleh masyarakat, tetapi juga membuat banyak dari mereka ingin terlibat dalam gerakan ini.
Salah seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Khori Nur Laila, mengaku senang bergabung dengan Sedekah Rombongan wilayah Solo. Menurutnya, sedekah tidak melulu sebatas sejumlah uang yang diberikan, tetapi juga tenaga, pikiran dan waktu yang diberikan kepada sesama yang membutuhkan.
“Selagi diberi sehat maka saya harus merawat orang sakit, menjadi kurir adalah panggilan hati, bagi saya Sedekah Rombongan sendiri adalah wadah tanpa mengenal usia dan ladang ibadah,” tuturnya.
Senada dengan pendapat Khori, Lastiko lantas menceritakan bahwa banyak kurir yang berasal dari beragam latar belakang sosial, bergabung dengan Sedekah Rombongan sebagai wujud syukur dan cari muka di depan Tuhan.
“Bahagia,” pungkas Lastiko saat ditanya dampak yang dirasakannya selama bergabung dengan Sedekah Rombongan.
Sedekah Rombongan adalah salah satu contoh gerakan yang menggunakan dengan baik media sosial yang ada. Menumbuhkan empati dan kemudian menyatukan tiap individu baik dengan media sosial sebagai penyalur niat baik mereka, begitulah kiranya yang terlihat dari gerakan ini.
. Sedekah Rombongan menjadi bukti nyata bahwa masih banyak orang baik diluar sana yang peduli dan mau beraksi. Namun jika hal tersebut belum cukup membuktikan dan masih ada pertanyaan apakah sisi kemanusiaan saat ini semakin memudar atau justru mengental, coba tanyakan pada diri masing-masing. Mengutip dari kata-kata Saptuari “Orang kaya itu merasa cukup hingga mulai memberi. Orang miskin itu selalu merasa kurang hingga terus meminta. Kamu kaya apa miskin?”.

*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Feature Writing Competition di COMMINFEST 2015 Univ. Atmajaya Jogjakarta.

Kamis, 30 April 2015

Sendiri.

"Apa sih yas enaknya kemana-mana sendiri?" 

Entah sudah berapa kali orang-orang nanya gitu ke aku. Dan berkali-kali pula cuma aku jawab "hehe". Emang kenapa gitu kalo pergi sendiri? kan tandanya mandiri, ya walau seringnya dikata jomblo sih ya, haha. Pengen deh balik nanya "Emang apa sih gaenaknya pergi sendiri?"
Aku bisa kasih beberapa alasan enaknya pergi sendiri. Kalo pergi sendiri gaperlu pake acara nunggu-nunggu temen dandan atau jemput, leluasa buat liat kesana kemari, gaperlu pamit kalo ke WC, gaperlu pake bingung kalo beli sesuatu, gaperlu ngerasa gaenak hati sama temen kalo mau nongkrong lama-lama, gaada yang ngerusuhin pengen cepetan pulang, gaada adu argumen soal mau makan apa, dan yang jelas intinya BEBAS. Enak kan? enak tau.

Jujur sebenernya aku agak merasa aneh dengan orang yang merasa "aneh" kalo pergi sendirian. Soalnya ya sebagai seseorang yang suka mlipir kesana - kemari sendirian, aku merasa baik-baik aja. Gaada yang salah kok dengan pergi sendirian. Cuman gaenaknya satu, gaada yang bayarin.

Tapi ngebahas tentang sendiri, kalo dipikir-dipikir emang di dunia ini kita hanya seorang diri, sadar gak sih? 
Aku, yang mungkin saking telminya, baru sadar akan hal ini beberapa bulan yang lalu. Walaupun pada realitasnya kita punya orang tua, saudara, ataupun sanak famili, tapi pada akhirnya juga kita akan menjalani hidup seorang diri. Hari ini mungkin masih ada orang tua sebagai tempat kamu berlindung dan mempedulikan kamu, tapi berapa puluh tahun kemudian kamu akan berlindung kesiapa ketika saudaramu pun sibuk memberi perhatian kepada keluarganya sendiri? Sepupu? mereka juga sibuk cari nafkah untuk keluarganya. Akan tiba saatnya dimana kamu bukan lagi diprioritaskan, tapi akan memprioritaskan. Usia akan bertambah tua dan satu persatu orang yang kamu sayangi akan pergi. Anakmu akan menikah dan punya keluarga lalu cucumu nanti akan punya anak yang sudah melupakan kamu, dan begitu seterusnya. Hal ini rasanya berlaku untuk semua manusia di dunia, tanpa terkecuali karena sudah jalannya begitu. Sudah sistemnya. Mau tidak mau manusia akan berhadapan dengan yang namanya kesendirian.

Nah, kembali ke pertanyaan di awal, kalo disuruh ngejawab serius kenapa suka pergi sendiri, berdasar pemikiran tersebut aku akan jawab : "karena manusia hidup sejatinya lahir dan mati sendiri, jadi ini latihan buat terbiasa dengan kesendirian."

Selasa, 19 Agustus 2014

Second semester. Little bit disaster.

Hellooooooooooooo
Wih lama juga ga ngeblog sampai ada sarang laba-laba, berlumut gini haha. Ga kerasa postingan terakhir itu bulan Desember kemarin, berarti udah genap 6 bulan atau satu semester aku ga ngeblog. Ya gimana mau ngeblog orang kerjaannya bikin makalah mulu :') Jadi beginilah rasanya kuliah, kampus-perpus-kampus-perpus. Buat adik-adik gemez mahasiswa baru yang bentar lagi ospek, kehidupan perkuliahan tidak semenyenangkan seperti di ftv ftv siang bolong -_-

Oke. Aku mau sedikit cerita tentang kehidupan perkuliahanku dua semester ini. Mulanya, everything going well. Semua berjalan seperti apa yang aku rencanakan dan aku inginkan. Ip semester 1 aku bagus, beasiswa PPA dapet, aku keterima HIMAKOM (Himpunan Mahasiswa Komunikasi), aku udah punya temen dan lingkungan yang nyaman.
Tapi yang namanya hidup mah emang ga selamanya mulus, little bit disaster is coming my way! Ip aku melorot drastis! Ya emang sih masih tiga koma tapi melorotnya jauh dari semester kemarin. Dan honestly, aku belum bilang ke ortu, mungkin mereka ga akan marah dan bilang "gapapa, semester depan ditingkatin lagi" soalnya ortu aku bukan tipikal yang maksa dan ngambekan. Toh nanti juga bakal tau sendiri kan hasil studi bakal dikirim lewat pos.
Seperti halnya orang yang gak terima, banyak pertanyaan dengan nada ga terima di benak aku. Perasaan aku udah bela-belain deh sampe ga tidur, tapi kok cuma dapet segini? perasaan temen lain yang deadliners parah kok lebih bagus ya? perasaan aku rajin ke perpus deh, dan perasaan perasaan lainnya yang masih banyak lagi.
Tapi kemudian aku sadar dan mulai introspeksi. Mungkin ini karena aku yang terlalu ngegampangin dan aku lupa kalau ga semua dosen sebaik dosen-dosen semester lalu. Mungkin dosen-dosen semester lalu lebih bermurah hati. Dan emang di semester dua ini aku jadi deadliner ga kaya semester satu kemarin. Ya masa deadline jam delapan pagi selesainya jam lima pagi. Yah mungkin inilah yang disebut teori sebab akibat.
Nah, semester depan aku harus bales dendam nih, bales dendam ip harus menanjak. Semoga.


Sabtu, 14 Desember 2013

Kami, Generasi Penerus Merah Putih.

Sebenarnya acara ini sudah 3 minggu yang lalu. Tapi karena keterbatasan waktu dan koneksi internet ya baru bisa ngeposting sekarang. Hehe. Lebih tepatnya sih aku yang kurang produktif menulis. Aku terjebak dalam rutinitas mengerjakan tugas, belajar buat ukd, ke perpus buat wi-fian gratis kemudian ngepo-in orang, dan sederet kegiatan lain yang biasa dilakukan mahasiswi yang rajin lah.......

Oke, kembali ke fokus utama.
Bulan November kemarin aku mengikuti yang namanya............................. *drumroll!!* WISUDA SEKOLAH PENERUS BANGSA 2013!


Akhirnya setelah kurang lebih dua bulan mengikuti Sekolah Penerus Bangsa 2013, sebuah sekolah rintisan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), digelar juga acara ini. Aku sudah lulus, sudah menjadi alumni. Antara sedih, bahagia, tidak percaya, dan sakit hati mau ditinggal Zayn Malik tunangan. Hiks. Oke skip.


Kenapa aku bisa ikutan acara seperti ini? Semua berawal dari expo unit kegiatan mahasiswa tingkat universitas. Waktu expo rasanya semua ukm pengen aku jabanin, pengen aku ikutin semua! tapi aku segera sadar itu hanya nafsu sesaat mahasiswa baru dan tersadar dengan kemampuan yang ada. Yakali suara kek begini mau ikut voca erudita, yakaleeeee -____-
Jadi kuputuskan untuk berkeliling dan hanya melihat lihat walau dalam hati tangan sudah gatal mau nulisin nama buat daftar ini itu.
Iseng-iseng aku berhenti di stan BEM UNS. Disitu ada yang menarik. Sebuah poster....


Karena suka sama posternya, aku langsung daftar. Padahal waktu itu aku ga tau apapun soal SPB 2013. Ga tau kalau sekolahnya itu tiap hari sabtu, gatau isinya ngapain aja, gatau kalau dikasih pr, gatau kalau harus bayar 35rb, dan gatau kenapa bisa ya aku ikutan acara ini sampai akhirnya wisuda?

Padahal aku sempet males buat nerusin gegara waktu Grand Opening-nya ga ikut. Ya soalnya waktu itu Ayah masuk ICU, ga mungkin lah aku seneng-seneng sementara Ibu sendiri ngejagain Ayah.
Saat kondisi sudah membaik, aku mikir lagi. Masa iya udah bayar 35rb gapernah ikut barang sekali aja, rugi dong! *tetep* *gamau rugi*
Dengan niat membara, tugas paper GO yang berhasil aku selesaikan hanya dalam waktu 1 jam dan surat ijin, aku ikut moving class. Jadi bisa disimpulkan awal mula aku ikut SPB karena iseng, penasaran, suka sama posternya dan gamau rugi, hehehehehehehehehe :3

Oke sekarang lebih baik skip saja langsung ke acara wisuda saja ya.
Awalnya aku pikir kita bakal nginep di Tawangmangu. Ternyata eh ternyata salah besar. Tempat diadakannya acara di Boyolali, kota yang terkenal akan susu segarnya itu lho. Tapi perjalanan menuju kesana jauh dari kata segar. Kita naik bis dan dilepas sendiri tanpa panitia, mereka Cuma ngasih petunjuk naik bis apa dan turun di pasar ampel. Sampai pasar ampel pun kita masih disuruh jalan ngikutin arah panah dan itu di belak-belokin jadi jauh banget padahal aslinya deket. Sebagai mantan anak pramuka dan paski sih jalan kek gitu aja mah kecil~ *bohong banget* *padahal ngos-ngosan*   
Betenya, sampai disana kita langsung disuruh push up! (ini apa coba pake acara push up segala kek paski aja -_-). Habis push up juga langsung disuruh terjun lapanganpadahal udah mghrib gitu, mana capek, kucel, belum mandi, belum nemu pacar. Lalu sehabis isya kita presentasi dan diskusi hasilnya terjun lapangan tadi sampe hoamsssss jam 11 malem. Kemudian kita bobo cantik walau tidurnya empet empetan u,u
Esok paginya, kita bantuin warga sekitar bikin jalan. Yah walau aku Cuma bisa bantuin bawa air doang sih :|
Terus terus terus, pagi menuju siang ini nih acara puncaknya, WI-SU-DA! Kita udah rapi pakai batik dan siap di wisuda.

Yah overall acara wisuda ini gak sesuai ekspektasi aku sih. Dan panitia SPB sendiri juga menyayangkan kuantitas kami yang sangat banyak namun tidak dengan kualitas, maafkan kami ya kakak kakak :') 
Tapi bagaimanapun juga kalau ada pembukan harus ada akhir, dan aku menikmati kegiatannya. Kalau aku ga ikut spb mungkin aku ga bakal ngerasain yang namanya simulasi sidang, manajemen aksi, simulasi demo, ketemu orang baru, dapet macem macem ilmu, terlibat bantuin warga desa bikin jalan dan lain lain.

Aku adalah salah satu orang yang percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Dan aku yakin ini bukan kebetulan aku menjadi bagian dalam SPB 2013.  

Mungkin dalam kualitas aku masih sama saja. Aku masih enggan mengangkat tangan, aku masih bingung mau bicara apa, aku belum peka terhadap sekitar, pokonya masih nol. Namun setidaknya ikut SPB 2013 menambah pengalamanku dan menyadarkan aku. Aku harus berani bicara dan melakukan hal lebih banyak lagi mulai detik ini, karena aku adalah bagian dari GENERASI PENERUS BANGSA.

Terimakasih untuk 2 bulanan ini,kalian luar biasah!


HIDUP MAHASISWA!
HIDUP BANGSA INDONESIA!

Selasa, 15 Oktober 2013

Sorry. I like being pretender. Pretending is the best skill I've ever had.

Minggu, 06 Oktober 2013

Meniti sajak

Aku berencana untuk mengikuti sebuah ukm di fakultas, namanya LPM VISI. Aku pikir untuk ikut ukm itu semudah ikut kegiatan ekstrakurikuler semasa smp sma dulu. Ternyata ribet. Yang harus bikin curriculum vitae lah, bikin inilah, bikin itulah, screening dulu lah, ujian tulis dulu lah, interview, final test dan tetek bengek lainnya macem ngelamar kerjaan begitu lah. Dan tentu ga semua yang ngelamar itu diterima kan? aku sudah mengalaminya dong, ditolak salah satu ukm karena ga lolos interview. Sakit men.

Nah, buat masuk LPM VISI juga ada syaratnya. Harus ngumpulin tugas, bikin salah satu karya boleh milih dari beberapa tugas yang sudah ditentukan. Aku milih puisi. Dapet ide bikin puisinya gak sengaja waktu ngebales sms seseorang nun jauh disana. Smsnya saya bales dengan kata kata yang agak puitis gitu deh, haha.

Terlepas dari bagus tidaknya puisi ini, setidaknya aku sudah mencoba meniti sajak ditemani bulir keringat.
Semoga LPM VISI berkenan menerima seonggok saya :')



Kamu, semu yang kurindu





Bersama hangatnya mentari

Yang sinarnya menyusup dari sekat jendela

Aku memilah kata

Tanpa banyak bertutur kata



Dalam ruang yang tak mengenal sepi

Asmamu mampir untuk kesekian kali

Membuat hati ini tergelitik geli

Untuk melesankan berkali-kali

Tidak peduli waktu dan hari

Tidak peduli kapan dan dimana

Tidak peduli apakah kamu peduli



Walaupun membayangkanmu terlalu sukar

Dan sosokmu kelewat semu

Namun dalam kesamaran, kuberikan rindu

Pada hadirmu, kugantungkan harapan



Sosokmu tiada pasti, namun aku terus disini

Mencintaimu tanpa banyak suara

Dan diam-diam merajut aksara

Mengkhayal dua siluet tanpa nama

Bergandengan erat di bibir samudera

Memandang jauh dari sudut cakrawala



Indah terbingkai metafora



Sebuah puisi oleh: Yasinta Rahmawati