Sabtu, 12 Desember 2015

Beauty Is Pain



Berbicara mengenai wajah, aku jadi teringat pada perkataan mas-mas salon yang agak ngondek. Waktu itu dia sedang mengcurly rambutku dan aku mengeluh kepanasan, “beauty is pain say, bentar lagi, sabar ya”. Sejak saat itulah aku mengenal kalimat beauty is pain.
I used to think that beauty is pain, some people say “no, beauty is not that pain”. But, are sure? Katakanlah kamu harus melakukan facial agar wajahmu bersih, katakanlah kamu harus pakai korset agar badanmu terlihat lebih ramping, tidakkah itu sakit? The pain of beauty is real, babe, and you don’t have to shy to say.
Yang aku tahu, ada dua macam jenis kecantikan manusia. Cantik yang berasal dari luar (outside) dan cantik dari dalam (inside). Namun kecantikan wajah adalah keniscayaan. Beberapa minggu lalu aku membacara artikel di sebuah surat kabar ternama di kotaku. Penulis artkel tersebut mengutip kata-kata dari mantan Miss Venezuela, dan aku langsung tersenyum kecut membacanya. Inti dari apa yang dikatakan Miss Venezuela itu adalah “kecantikan dari dalam itu sebenarnya tidak ada, itu hanyalah sebuah ilusi dari wanita yang merasa kurang dalam hal fisik.” Plak! Seketika menampar para wanita yang percaya akan beauty inside of them. Tidak heran dia mengatakannya tanpa beban. Dia mantan pemenang kontes kecantikan. Dia sudah diakui cantik dalam hal fisik.
            Lho, sebenarnya aku berpihak di kubu mana sih? Kubu yang setuju cantik dari luar atau dari dalam? Tidak, aku tidak sedang berpihak pada kubu manapun. Ini bukan pilkada serentak teman-teman. Aku hanya memaparkan bagaimana pemikiranku selama ini tentang definisi cantik yang masih nggrambyan.
Aku setuju jika cantik bukan melulu soal fisik.Tapi aku juga setuju, jika cantik dari dalam tidak akan terlihat jika wajahmu kusam dan tidak terawat. Semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Cantik dari luar dapat seketika terlihat, tapi seiring berjalannya waktu kecantikan itu bisa pudar. Cantik dari dalam tidak langsung terlihat, tapi seiring berjalannya waktu kecantikan itu bisa terlihat.
Cantik dari dalam dapat diidentikkan dengan hati yang baik, jujur, ramah, dan sebagainya yang termasuk dalam kategori baik. Tapi bagaimana dengan cantik dari luar? Identik dengan apakah dia? Ini yang menjadi soal.
Cleopatra sebagai ikon kecantikan, dipercaya sebagai sosok yang mempunyai tubuh langsing, kulit putih, rambut tebal dan hidung mancung. Aku tidak terlalu percaya dengan penggambaran ini. Karena pada zaman tersebut tidak ada kamera, bisa saja ini imajinasi orang yang menemukan kepingan sejarah soal Cleopatra.
Terlepas dari benar tidaknya penggambaran tentang Cleopatra, kita tidak dapat menutup mata jika dia adalah kiblat dari kecantikan. Terbukti dari larisnya jasa pemutihan kulit, pemancungan hidung, dan sedot lemak. Pernah lihat model Victoria Secrets berbadan gempal? Kalau ada mungkin bisnis lingerienya makin laris.
Harusnya aku membicarakan tetang wajah saja, tapi maaf jika terlalu melebar pada kecantikan secara general. Karena wajah dan kecantikan atau ketampanan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Soal tampan, yang namanya Nyle Di Marco itu tampan bukan main lho. Alisnya tebal, matanya teduh, jambangnya menawan dan perutnya six pack. Siapa sih Nyle? He is a deaf, but he is crowned as the winner of America’s Next Top Model cycle 22!
Maaf ya, ga fokus….

Rabu, 09 Desember 2015

Namanya Hujan



Namanya Hujan. Nama yang cukup aneh bagiku. Karena ketika yang lain bernama ke barat-baratan seperti Daniel, justin, michelle, dan lain sebagainya, kedua orang tuanya lebih memilih untuk memberi nama Hujan padanya. Mungkin karena Hujan lahir di kala hujan, atau mungkin Hujan dibuat ketika sedang hujan?
Sesuai namanya, dia juga menyukai hujan. Seperti bunglon yang dapat melakukan mimikri, Hujan juga dapat melakukan mimikri saat musim hujan tiba. Bukan, Hujan tidak berganti warna kulit, melainkan ia hanya berganti sifat. Di sepanjang musim kemarau, dia terlihat biasa saja. Bicara seperlunya, tertawa seadanya. Tapi jika sudah masuk musim hujan, entah mengapa dia menjadi sangat ceria. Senyumnya selalu tersungging. Walau namanya Hujan tapi dia membawa senyum seindah bulan sabit. Manis. Indah. Syahdu.
            Hujan tidak menyukai terik. Baginya, keluar ruangan di kala cuaca terik adalah malapetaka. Itulah mengapa ia jarang keluar rumah, jarang bermain dan berolah raga di siang hari. Namun ketika malam, dia bisa pergi kemana saja yang dia mau. TIdak tidur pun sering, “Aku kemarin marathon Empire season dua lho, dari awal sampe tamat. Gila ya, Sky bisa bikin si Jamal straight”, itulah yang dia katakan tadi pagi, lingkar matanya masih hitam, hampir menyerupai make up smoky eyes.
            Sejujurnya aku kagum dengan Hujan, dia adalah pendengar yang baik. Teman-temanku suka curhat padanya, tidak jarang ceritanya sambil menangis. Setelah mereka curhat pada Hujan, keadaan mereka terlihat jauh lebih baik. Aku jadi teringat dengan karakter Sad di film Inside Out. Pantas orang-orang menyukainya, setelah mereka hujan air mata dan bertemu Hujan, pelangi terbit dari mata mereka. Hujan menampung kesedihan, tapi setelahnya menerbitkan kelegaan. Kebahagiaan.
            Hujan juga pandai membuat puisi. Saat hujan tiba, kelihaian Hujan membuat puisi semakin menjadi. Gemericik bunyi hujan membawa tetesan ide. Seperti di hujani inspirasi, katanya. Tidak seperti aku, yang mampu menyusun deretan kata menjadi sebuah puisi ketika dilanda galau saja. 
            Tapi satu kekurangan Hujan, dia sangat pelupa. Kemanapun dia pergi, ke toilet, ke kantin, ke mall, ke toko buku, ke pasar sekalipun dia selalu membawa note kecil kesayangannya. Katanya itu adalah barang wajib yang harus ia bawa kemanapun, jaga-jaga kalau dia terbersit sajak yang bagus sehingga bisa langsung mencatatnya. Hujan sepertinya lupa, kalau saat ini ada kecanggihan teknologi yang bernama smartphone.
            Tidak banyak yang tahu kalau Hujan pernah “jatuh hati”. Kata jatuh dengan arti yang sesungguhnya. Sudah bertahun-tahun dia menyukai seseorang, sebut saja inisialnya T. Tapi rasa sukanya tidak pernah terbalas. Si T, sudah mempunyai kekasih, berganti beberapa kali malah, tetapi Hujan terus menunggunya. “Bodoh, lupakan saja dia”, kataku. Tapi entah apa yang membuatnya bersikukuh dengan pilihannya, dia seperti kecanduan. Candu terhadap sakit hati yang selalu sama.
Walau begitu Hujan tidak pernah mengeluh. Dia percaya akan quote dari Paulo Coelho, penulis favoritku, begini katanya, “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”. Aku juga percaya, tapi tidak jika sudah membawa cinta. Tidak relevan.  
Sampai sekarang Hujan masih menunggu cintanya, entah sampai kapan. Sekarang aku paham kenapa dia di beri nama Hujan. Karena sifatnya seperti hujan. Hujan selalu jatuh berulang kali, namun tetap hadir untuk kesekian kali.

Selasa, 08 Desember 2015

TONGGERET



Sebelumnya aku tidak pernah melihat bagaimana bentuk serangga yang disebut tonggeret, mendengar namanya pun baru di semester lima ini. Jadi jangan tanya tentang serangga bernama tonggeret, karena aku tidak tahu apa-apa dan tidak berminat mengetahuinya. Kenapa? karena dia serangga, dan aku tidak suka berhadapan dengan  serangga. Menurutku semua serangga itu seram. Serangga yang bernama kupu-kupu yang kata orang  indah nan elok pun aku tidak suka. Kalau tidak suka, ya tidak suka. Titik.    
Membicarakan kupu-kupu aku jadi ingat sesuatu, kamu pernah lihat kartun Spongebob Squarepants  yang episode dia sama Patrick menangkap kupu-kupu dan seluruh kota berantakan ?  nah, seram kan?. Temanku pernah berkata seperti ini “kamu kok aneh, gak suka sama kupu-kupu, kan sayapnya cantik ?” lalu aku jawab “kamu yang aneh. Kamu ga suka kucing. Padahal kucing kan lucu.” Kemudian kami berdua marahan, tidak bicara untuk beberapa hari. Hanya karena masalah aku tidak suka kupu-kupu dan dia tidak suka kucing. Kekanak-kanakan ya? Tentu, karena saat itu kami masih duduk di taman kanak-kanak.
Namun karena aku harus membuat tulisan sepanjang 500 kata ini yang bertemakan tonggeret, mau tidak mau aku harus mencari tahu apa itu tonggeret, dengan berat hati. Biasanya stalking gebetan, eh orang maksudnya, ini harus stalking serangga. Dan terimakasih untuk Wikipedia, yang memberitahu aku apa itu tonggeret.
Pertama, tonggeret itu mirip lalat, hanya saja lebih besar ukuran tubuhnya. Di gambar matanya merah seperti habis berenang di kolam renang berkaporit. Mungkin dia juga yang menginspirasi  Shotaro Isinomori untuk membuat serial Kesatria Baja Hitam (Kamen Rider). Jadi jauh sebelum Marvel membuat Ant-man, sudah ada superhero yang terinspirasi dari serangga. Dan waktu si Kotaro Minami berubah menjadi superhero dengan bentuk serangga, sampai sekarang aku masih bertanya-tanya “dia berubah jadi lalat ya?”.  Sekarang aku sadar Kamen Rider lebih mirip tonggeret. Tapi, memangnya tonggeret juga hidup di Jepang ya?
Kedua, tonggeret dapat mengeluarkan bunyi nyaring dari alat penghasil suara di bawah sayapnya. Serangga dapat bersuara? Yang aku tahu paling cuma suara nyamuk. Tonggeret “berdendang” biasanya diyakini sebagai pertanda dimana musim hujan sudah berakhir. Dan tonggeret jantan juga “berdendang“ untuk menarik perhatian si betina agar mau menghampirinya. Ternyata, tidak hanya manusia yang mampu menarik perhatian lawan jenis.  Tapi sayangnya, setelah mereka kawin, si betina akan bertelur dan kemudian mati. Cinta memang perlu pengorbanan, ya?
Ketiga, tonggeret punya fase hidup yang panjang. Bayangkan, dia harus menjadi larva sekitar delapan sampai 17 tahun. Ketika manusia sudah merayakan sweet seventeen, dia baru keluar dari cangkang telurnya. Setelah keluar dari cangkang telur pun dia harus menarik perhatian si betina untuk kawin dan bertelur. Setelah “berdendang” sekitar 6 hari kemudian dia pun akan mati menyusul si betina. Belasan tahun berjuang hidup di dalam cangkang telur, namun saat keluar dia hanya hidup sebentar di dunia. Lantas, apa gunanya dia hidup?
Sebagai pembenci serangga, aku tidak menutup mata jika segala sesuatu tercipta karena suatu hal. Lalat misalnya, dia dapat memberitahu kita apakah sebuah tahu itu berformalin atau tidak.
Lalu apa fungsi tonggeret hidup di dunia? Aku tidak tahu. Untuk mewarnai ragam serangga mungkin.
Sudah ya, aku agak geli teringat gambar tonggeret.

Jumat, 06 November 2015

GABISA MOVE ONNNNNN

Pokoknya aku mau curhat.

Pernah ga sih kamu tiba-tiba pengen pinjem mesin waktunya doraemon?
Atau pengen punya kalungnya hermione?
Apapun benda-benda yang bisa bikin kamu kembali ke suatu waktu atau bahkan menghentikan waktu itu sendiri.
Oh gosh, just bring me back to the 2000's !

Mungkin aku terlalu drama dan alay. Semua orang pasti pernah merasakan rindu pada masa lalu. Tapi masalahnya, rinduku tak berkesudahan.
Di tahun ketiga kuliah ini pikiran, perasaan dan jiwaku rasanya masih melayang-layang. Aku masih merasa berada di sekitar tahun 2000an. Dan ketika aku melihat kalender, aku masih terkejut kalau ini sudah tahun 2015. Akhir 2015 malah.

Aku rindu rumah lamaku, yang ada ayunannya. Yang setiap sore ada suara atau lagu yang khas dari sebelah rumah. Yang saking luasnya aku bisa bersepeda di dalamnya. Yang ada bunga kuning. Yang lantainya masih kuno. Yang  aku bisa sirami tamannya pakai selang, sampai aku basah kuyup sendiri. Yang tak akan terdengar suara motor diluar. Rumah yang nyaman, adem, sekaligus hangat. Saksi masa kecilku dan keluargaku. Rumah yang ternyata bukan rumah kedua orangtuaku, sehingga akhirnya masuk smp aku harus pindah rumah.

Aku rindu masa SD. Yang tiap pagi aku rasakan sejuknya udara pagi sambil membonceng ayah untuk masuk sekolah. Yang jajanannya aku rindu, nasi kuningnya masih 300 perak, bau uap bakso ojek ataupun tempura berbalut telur. Yang aku tetap merasa bahagia walau tak punya geng, hanya beberapa teman yang bisa dihitung jari pakai satu tangan.Yang pada masa itu masih banyak anime di tv, telenovela, mtv dan film asing jadul tanpa sensor.

Aku rindu masa SMP. Yang tiap senin sore tanganku berlumuran cat air. Yang tiap jumat ikut pramuka. Yang tiap sore aku malas pulang karena nyamannya pendopo smp. Yang gurunya menyenangkan. Yang hampir tiap senin aku menjadi petugas upacara. Yang aku mulai punya teman dan berani bicara. 

Dan banyak lagi yang aku rindukan. Aku pernah sampai yang merasa sangat "sakit" saat dulu menjelang ujian nasional SMA. Ya karena baper perihal itu. Dan sekarang perasan itu muncul lagi dan lagi. Melihat film ataupun mendengarkan lagu lawas tidak mengobati rindu ini. Apalagi melihat foto lawas, aku semakin cemas baperku menjadi-jadi. Aku tidak tau apa yang terjadi denganku, tapi sungguh, aku kesakitan karena merindu dan belum kutemukan obatnya.

Kalau tidak boleh menghentikan waktu, ingin rasanya aku dibawa peterpan ke wonderland. Aku tidak ingin menjadi dewasa. Karena menjadi dewasa itu menyebalkan. 

Karena menjadi dewasa, aku harus melihat kedua orangtuaku menua.

Minggu, 16 Agustus 2015

Karena Pramuka, Aku Ada.

"Tepuk Pramuka!"
"Prok prok prok! Prok prok prok! PRA-MU-KA, Praja Muda Karana!"

Maih inget kan tepuk diatas? berhubung tanggal 14 Agustus kemarin adalah peringatan hari pramuka, aku pengen nulis tentang pengalamanku ikut pramuka waktu SMP. Biar bisa dibaca anak cucu, kan kali aja beberapa puluh tahun lagi pramuka udah musnah karena enggak diwajibin, secara anak sekarang takut ninggalin gadget. Ah! children nowadays, they don't know what they're missed :(

Sebenernya nulis ini karena  flashback. Atau istilah kekiniannya baper. Semua orang pasti mempunyai momen yang membekas di hati. Dan salah satu momen bagiku pribadi yang aku rasa paling membekas adalah Pramuka.Terhitung waktu SMP dan SMA aku ikut tiga ekstrakurikuler, Pramuka, Paskibra dan OSIS. Tetapi ya yang menurutku paling membekas di hati ya cuman waktu ikut pramuka SMP.

Kalo dipikir pikir aku juga ga ngerti kenapa ya kok pramuka. Disaat orang lain memandang anak pramuka itu cupu, aku malah demen ikut pramuka. Yakin deh, waktu temen-temnku yang lain ngerasa males dan terbebani ikut pramuka, aku ga pernah sekalipun ngerasa males bahkan hari jumat itu hari yang aku nanti-nanti. Walaupun keringetan, ketek pada basah dan mbak mbak Dewan Penggalang (DP) kadang galak waktu ngajarin baris. Tapi aku gak keberatan. Soalnya setiap pertemuan pasti ada yang baru, ga pernah ngebosenin.

Awalnya karena kelas satu pramuka itu ekstrakurikiuler wajib, jadi mau gak mau semua murid harus ikut. Baru kelas duanya boleh milih mau lanjut atau enggak .jadi DP, dan pastinya aku lanjut, hehe. Tapi aku bukan kakak DP yang galak kok :( Disini DP kerjanya ngebimbing adek adek, mentransfer ilmu yang didapet dulu.   

Bagiku, ikut pramuka itu asyik. Se-asik slogannya majalah bobo "bermain dan belajar", pramuka juga gitu. Pramuka ga melulu tepuk tepuk dan nyanyi. Itu buat anak SD kali. Di pramuka SMP kita belajar banyak, mulai dari mengenal rasi bintang sampe kode morse. Dan kegiatan kemah adalah yang paling ditunggu. Dan mencari jejak yang paling asik walau abis itu kaki pada kaku semua. 

Pramuka juga tempat menyalurkan minat dan bakat. Kalo mau belajar bidang kesehatan ada yang namanya satuan karya (saka) bakti husada, mau belajar tentang alam ada saka bahari, mau belajar tentang lalu lintas ada saka lantas, dan saka saka lainnya yang total ada 17 saka. Jadi bisa dibilang, ekstra seperti PMR. PKS, Paskibra, dan pecinta alam itu akarnya dari pramuka, tapi bercabang jadi lebih spesifik.

Buat aku pribadi, ikut pramuka bikin aku gak silence syndrome lagi. That's why judulnya nyontek perkataannya Rene Descartes yang "Aku berpikir maka aku ada" jadi "Karena Pramuka, aku ada". Sebelum ikut Pramuka aku termasuk anak yang pendiem dan pemalu. Tapi setelah ikut pramuka aku ngerasa jauh lebih berani dan ekspresif. Ga kebayang kalo semisal dulu ga ikut pramuka, mungkin ga bakal masuk Ilmu Komunikasi juga deh haha.

Disini juga aku mulai bisa bersosialisasi, mempelajari berbagai karakter orang, dan belajar untuk jadi lebih dewasa. Ada waktunya harus mertahanin ego dan berlapang dada. Ada waktunya berbagi dan cukup mendengar. Belajar teamwork, tenggang rasa dan peka terhadap lingkungan. Yang jelas, jadi lebih pede untuk jadi diri sendiri, sadar gak sadar ngebentuk karakter diri sendiri juga.

Nah, that's little story about the greatest moment of my life and i called it one of my turning point. Mau cerita banyak dan lebih detail sih, tapi ntar kepanjangan kasian yang mau pada baca haha. Intinya, jangan malu ikut Pramuka. Biar dikata Pramuka itu cupu dan so yesterday banget, selama kamu suka dan dapet manfaatnya kenapa engga? Temen aku dulu karena pramuka aja bisa sampe Korea.

Semoga di ulang tahun pramuka yang ke 54 ini image pramuka bisa dipandang keren dimata anak muda sekarang biar terus eksis sampe beranak cucu.

Salam Pramuka!


Foto diambil enam tahun yang lalu, sehabis pelantikan Dewan Penggalang. Masih pakai Hape Nokia jadul tapi sudah mendewa di jamannya. 






Senin, 04 Mei 2015

Bantu Sesama Sembari Cari Muka Depan Tuhan


Kenyataan bahwa era digital saat ini sangat mengubah pola hidup maupun perilaku masyarakat ke arah yang cenderung negatif memang tidak dipertanyakan lagi. Tetapi, apakah sisi kemanusiaan  dalam diri masyarakat juga ikut berubah? Sebuah gerakan yang dinamai Sedekah Rombongan menjawabnya dengan pembuktian, bahwa masih banyak yang peduli pada sesama  di era digital ini. 
 
Berawal dari tulisan dalam sebuah blog pribadi milik Saptuari Sugiharto, gagasan membentuk suatu gerakan sedekah jalanan pun muncul. Tulisan dari founder sedekah jalanan ini membahas mengenai seorang bernama Puteri Herlina, seorang penyandang difabel yang tidak memiliki tangan sejak lahir dan dirawat oleh panti asuhan Sayap Ibu di Jogjakarta. Tulisan tersebut mendapat respon luar biasa dari kawan-kawan blogger, dan dari sanalah kemudian banyak SMS serta mention di twitter yang ingin menitipkan sedekah.
Saptuari mengatakan tanggal sembilan Juni 2011 menjadi momen penting dimana gerakan ini resmi didirikan dan dinamai Sedekah Rombongan. “Sedekah Rombongan  mengambil konsep seperti semut, sendiri dia lemah, kalau barengan biskuit saja bisa diangkat,” ujarnya.
Dengan Visi “Mencari muka di depan Tuhan” dan misi “Menyampaikan titipan langit tanpa rumit sulit dan berbelit belit,” Sedekah Rombongan menjadi garda terdepan untuk membantu masyarakat di luar sana yang membutuhkan pertologan jasmani maupun rohani. 

Kekuatan TTW
Seiring dengan begitu banyaknya kawan dan pengguna twitter yang ingin menitipkan dan menyampaikan sedekah lewat gerakan ini, Sedekah Rombongan kini telah hadir di sembilan kota di Indonesia  dan telah banyak member manfaat bagi masyarakat setempat.
Koodinator wilayah Solo, Lastiko Harimurti mengaku bahwa gerakan Sedekah Rombongan memang lebih banyak menggunakan media sosial dalam sistem kerjanya. Berawal dari follow akun @SRbergerak pula dia mengetahui dan memutuskan bergabung dengan Sedekah Rombongan. “Uniknya Sedekah Rombongan adalah kuatnya Trust, Twitter dan Web (TTW),” ujarnya.
Tidak hanya lewat twitter dan web, Sedekah Rombongan juga memanfaatkan dengan baik sosial media lainnya yang dirasa sangat efektif dalam mengabarkan informasi kepada masyarakat. “Dengan adanya sosmed orang jadi mudah bersedekah, mereka jadi tahu kemana saja sedekahnya disampaikan. Terpantau online 24 Jam melalui twitter, web, facebook dan instagram” jelas Saptuari.
Nantinya, jumlah semua santunan tersebut akan dilaporkan di web secara transparan. Sedekah rombongan hingga saat ini tercatat sudah menyampaikan santunan sebesar 21 milyar lebih, dan santunan tersebut disampaikan untuk bantuan dan operasional.
Selain menghimpun dana lewat media sosial, gerakan ini juga melakukan publikasi dan kegiatan nyata seperti seminar dan presentasi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan berita tentang keluarga kita diluar sana yang saat ini sedang menjerit lapar, kesakitan dibalik dinding rumah sakit, di dalam rumah berlantai tanah yang semuanya perlu pertolongan kita sebagai sesama manusia.
Untuk sasaran penerima santunan sendiri, Sedekah rombongan mengerucutkannya berdasarkan prioritas. Prioritas tersebut antara lain panti asuhan anak cacat, panti asuhan bayi terlantar, panti asuhan yatim piatu, janda tua dhuafa, orang sakit yang tidak mampu, biaya sekolah anak yatim dan dhuafa, pondok pesantren dan masjid yang sedang dibangun atau kekurangan, serta kebutuhan alat ibadah.

WorkFlow
Sebagai sebuah gerakan sedekah jalanan yang tidak memiliki kantor, relawan yang disebut dengan “kurir” selalu berkoordinasi dan membuat administrasi di dunia maya. “Biasanya diadakan gathering para kurir sewilayah, dan se-Indonesia ketika ada rapat, karena hubungan utama lewat whatsapp soalnya,” tutur Lastiko.
Sedekah Rombongan mempunyai tiga WorkFlow, yaitu survey, santuni dan dampingi. Lastiko menjelaskan bahwa awalnya akan ada informasi yang masuk mengenai pasien dari web, twitter atau ditemukan kurir sendiri yang kemudian akan di survey oleh kurir, dan selanjutnya akan dibahas di dalam grup yang nantinya diputuskan untuk diberikan santunan lepas atau dampingan. “Santunan lepas ialah memberi sekali dengan sejumlah banyak uang dan dampingan ialah mendampingi pasien dari awal berobat sampai selesai pengobatan,” terang Lastiko.
Tidak jarang, pasien yang dibantu Sedekah Rombongan adalah mereka yang terkena penyakit ganas seperti kanker dan tumor, yang tentu dalam pengobatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Untuk memudahkan pengobatan dan pendampingan pasien, saat ini Sedekah Rombongan telah memiliki Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) di beberapa kota sebagai tempat transit pasien yang berobat jalan rujukan dari RSUD luar kota. Dan juga sudah memiliki 18 MTSR atau mobil Tanggap Sedekah Rombongan yang berfungsi sebagai ambulance untuk memudahkan pergerakan antar jemput pasien. 

Ladang Ibadah
Gencarnya publikasi dan sosialisasi melalui media sosial, membuat gerakan sedekah rombongan tidak hanya semakin dikenal oleh masyarakat, tetapi juga membuat banyak dari mereka ingin terlibat dalam gerakan ini.
Salah seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Khori Nur Laila, mengaku senang bergabung dengan Sedekah Rombongan wilayah Solo. Menurutnya, sedekah tidak melulu sebatas sejumlah uang yang diberikan, tetapi juga tenaga, pikiran dan waktu yang diberikan kepada sesama yang membutuhkan.
“Selagi diberi sehat maka saya harus merawat orang sakit, menjadi kurir adalah panggilan hati, bagi saya Sedekah Rombongan sendiri adalah wadah tanpa mengenal usia dan ladang ibadah,” tuturnya.
Senada dengan pendapat Khori, Lastiko lantas menceritakan bahwa banyak kurir yang berasal dari beragam latar belakang sosial, bergabung dengan Sedekah Rombongan sebagai wujud syukur dan cari muka di depan Tuhan.
“Bahagia,” pungkas Lastiko saat ditanya dampak yang dirasakannya selama bergabung dengan Sedekah Rombongan.
Sedekah Rombongan adalah salah satu contoh gerakan yang menggunakan dengan baik media sosial yang ada. Menumbuhkan empati dan kemudian menyatukan tiap individu baik dengan media sosial sebagai penyalur niat baik mereka, begitulah kiranya yang terlihat dari gerakan ini.
. Sedekah Rombongan menjadi bukti nyata bahwa masih banyak orang baik diluar sana yang peduli dan mau beraksi. Namun jika hal tersebut belum cukup membuktikan dan masih ada pertanyaan apakah sisi kemanusiaan saat ini semakin memudar atau justru mengental, coba tanyakan pada diri masing-masing. Mengutip dari kata-kata Saptuari “Orang kaya itu merasa cukup hingga mulai memberi. Orang miskin itu selalu merasa kurang hingga terus meminta. Kamu kaya apa miskin?”.

*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Feature Writing Competition di COMMINFEST 2015 Univ. Atmajaya Jogjakarta.